(Foto: Hafiz Mutahari)

Di Dalam Kereta

Mengenang Silva Nur Hasanah

Tentu saja, berusaha meramalkan berakhirnya
perjalanan merupakan suatu kesia-siaan.

jalan yang tak berujung seolah telah dirajah
dengan rel besi dan takdir yang sunyi,

begitu panjang,
begitu memenjarakan.

gerbong-gerbong tua yang mendengus asap hangus
melintas sesering kau di masa lalu dalam ingatan masa kiniku.

Di balik jendela, aku menatap muram
Kota-kota yang memilih berjarak saat malam,

Dan cahaya yang terpendar, menari riang
Dalam nampan hitam yang kita namai kegelapan.

Tak terlihat gambar-gambar pop art pada tembok,
Atau romansa cerita lama di luar sana.

Bahkan, pengemis kontemporer yang gelisah
Menyembunyikan uang mereka, tak juga tertangkap mata.

Malam benar-benar tak memberikanku kesempatan,
Untuk menceritakan kisah-kisah lain selain di dalam kereta.

Waktu berusaha melambat,
Ketika gerbong-gerbong ini melindap.

Sedangkan waktu yang telah berlalu,
Tak sempat melambaikan tangan, sebagai salam perpisahan.

Aku sedang ingin pulang,
Dan berusaha menyembunyikan rindu yang kesekian,

Untuk berharap pada pertemuan selanjutnya,
Kita tak lelah mengutarakan cinta di depan mata.


Sajian di Sebuah Kafe

Mengenang Fara Dayana

aku memesan espresso
yang lebih gelap dari malam, tapi tidak lebih pahit
dari kenyataan

sedangkan kau memilih ice cappucino latte
rasa manis mendominasi
dengan krim yang tersaji di permukaannya
katamu,
“aku terlalu sering mencecap pahit
di lidah, karena hari jarang memberikan taburan gula
di setiap langkahku.”

bagiku, kopi itu hitam, dan pahit

kita berada di sini bukan untuk membicarakan masa lalu
karena kemarin, kita sudah menulis banyak harapan
untuk kita ciptakan sebagai kenyataan di masa depan

meja dan kursi sedingin es
barista kesepian, tak kunjung datang pelanggan
selain kita

katakan sesuatu
sesudah tandas kopi ini
dan kau pulang

sebuah janji, bertemu kembali


Tentang Cinta

cinta yang kau tahbiskan
dengan air mata
mewujud sebagai rahasia

pada batu-batu akkadia(1)
wanita yang dibebat matanya(2)
atau Sulaiman
ia menatap seorang bayi
dengan pedang terhunus
bersiap untuk membelahnya(3)

kita mungkin
akan mempertanyakan cinta yang diam,
ketika takdir menyelubungi lelaki sekarat
mempertanyakan Tuhan
di dalam dinginnya kedekatan
dengan kematian(4)

kau mungkin tak tahu
para gadis kecil yang dikubur
napasnya masih terengah seusai bermain
sedang angin gurun
membawa kabar lain(5)

namun lelaki yang terjebak di gua Efesus itu
benar-benar terbangun dari masa lalu
cinta yang bersemayam
dan anjing yang menunggu tuannya pulang(6)

—————————–

(1) Codex Hammurabi.
(2) Dewi keadilan, Yustisia, yang menggunakan bebat-mata Fortuna dan memegang pedang Nemesis.
(3) Sebagaimana termuat dalam 1 Raja-Raja 3:16-28. Bayi tersebut tidak dibelah dua, tetapi diberikan kepada wanita yang menangis memohon agar anaknya jangan dibelah. Sedangkan wanita yang satunya lagi menyetujui agar anak tersebut dibelah supaya adil.
(4) Dikisahkan dari seorang kawan, ketika seorang lelaki sekarat saat perang dingin. Ia memohon pada Tuhan agar menolongnya. Akan tetapi Tuhan tidak memberinya pertolongan.
(5) Tradisi mengubur anak wanita di Arab pada masa pra-Islam.
(6) Seven Sleepers of Ephesus atau kisah Ashabul Kahfi
.


Di Verona Suatu Waktu

Mengenang Giuseppe D’Onofrio

tak ada cerita yang tak menarik
setiap malamnya dari pak tua bertubuh gempal
tentang masa silam: mahkota, darah, dan peperangan.

ia menyebut berbagai nama tapi aku gagal mengingatnya
karena suara pak tua itu kenjebakku pada kerinduan
tentang rumah nun jauh di sana
menyebrangi samudera, melintasi berbagai benua.

tidak seperti kita yang mengagung-agungkan sebiji kurma
ia lebih mengenal espresso dan biji kopi adalah
teman sunyinya setiap hari.
harum yang menawan, dan kisah-kisah mengenai kepahitan
sedangkan sepak bola menjadi bincang menarik di setiap siang.

lalu aku mencoba menggodannya dengan opera.
ia kemudian berkisah tentang Romeo dan Juliet,
dari jauh orang-orang datang, hanya untuk melihat
beragam kisah bohongan.

Dante dan Divina Comedia:
kau tertawa.
sudah berapa kali Dante mati? seolah ia sangat fasih
membincangkan dunia yang tak ia pahami rupanya.

kau menyuruhku pulang
setelah beberapa botol wine kau kandaskan.

katamu:
tak ada teori gravitasi atau Newton di sini
masa lalu yang tersisa
hanyalah mesin yang menghidupi kami

sedangkan reruntuhan dan sejarah
merupakan cara lain agar kami
dapat meneruskan masa depan yang temaram