Posluhdes Karya Tani Desa Kadu
Balai Posluhdes Karya Tani di Kampung Sempur Desa Kadu.
(Kredit foto: Gung Kasep)

Sebagai wilayah yang dilewati Jalan Raya Serang-Jakarta dan Jalan Tol Jakarta-Merak, Desa Kadu jadi tempat menarik buat para pemilik modal mengembangkan asetnya lewat bermacam bisnis. Banyak pabrik dengan berbagai skala berdiri di sana, turut serta mengubah kultur masyarakat dari agraris ke industri. Juga penduduk baik pribumi maupun pendatang banyak membutuhkan lahan untuk tempat tinggal, ruko dan perumahan. Menjadikan Desa Kadu sebagai desa yang terancam tidak memiliki areal pertanian.

Di tengah gempuran alih fungsi lahan pertanian, lahirlah Pos Penyuluhan Desa (Posluhdes) Karya Tani. Seperti tunas-tunas tumbuh setelah kemarau panjang, saya menyebutnya sebagai harapan yang mulai mekar menyelamatkan riwayat Desa Kadu sebagai desa agraris, sebagai desa yang lahir dari budaya hijaunya sawah dan kebun.

Kamis (20/2) lalu, lewat informasi seorang teman, saya berkesempatan mengunjungi Posluhdes tersebut. Terletak di Kampung Sempur Desa Kadu Kecamatan Curug Kabupaten Tangerang. Lokasinya memang sedikit ke dalam dari jalan utama kampung, hanya dilalui jalan lingkungan dari paving blok selebar satu setengah meter. Setibanya di sana, saya disuguhi pemandangan kebun rindang, juga persawahan yang kebanyakan milik korporasi besar. Sempat saya tak percaya, di Desa yang pembangunannya begitu masif ini, masih terdapat kebun-kebun dan sawah cukup luas. Bagi saya lokasi ini cukup buat dijadikan tempat sejenak menenangkan pikiran dari hingar-bingar kota dengan segelas kopi dan sebatang udud.

Persawahan di Kampung Sempur
(Kredit foto: Gung Kasep)

Bertemulah saya dengan ketua Posluhdes, Pak Ali Suud namanya. Pos atau balai Posluhdes yang juga dijadikan tempat berkumpulnya para Kelompok Tani dalam satu desa ini berdiri di atas tanah pribadinya seluas kurang lebih 2 hektare. Di atas tanah luasnya itu juga terdapat kandang kambing dan ladang palawija seperti jagung, tanaman hias sampai sayur-mayur.

“Sebelumnya ya cuma kebon kosong aja, terus coba kita bersihkan, kita tanam sayur, bikin saung, banyak yang minat untuk gabung sampai dipercaya jadi Posluhdes,” jawab pak Ali memulai perbincangan. “Posluhdes ini baru berdiri, sekitar 7 bulanan lalu.”

Menurut Pak Ali, Kendala yang dihadapi Posluhdes dan banyak Kelompok Tani di dalamnya adalah minimnya hasil panen dan kurangnya pemasaran. Memang harus diakui, minimnya lahan pertanian membuat kendala itu muncul, tapi seharusnya hasil panen bisa dimaksimalkan lewat penguasaan teknik pertanian yang baik dibantu alat memadai. Juga penggunaan bibit unggul dengan pupuk sesuai sehingga mampu menghasilkan panen berkualitas dan memiliki nilai ekonomi tinggi.

Pak Ali Suud, Ketua Posluhdes Karya Tani Desa Kadu – Pertama dari kanan
(Kredit foto: Gung Kasep)

“Hasil panennya memang belum bisa dijual ke pasar atau memenuhi permintaan pedagang sayur, paling cuma dijadikan konsumsi pribadi dan di jual ke warga sekitar saja,” ujar Pak Ali Suud yang juga menjabat sebagai ketua RT setempat. “Petani di sini kan kebanyakan cuma mengisi waktu senggang, cuma dijadikan sampingan.”

Pak Ali berharap, ke depan Posluhdes yang dia pimpin bisa mendapat banyak pelatihan dan penyuluhan tentang bagaimana cara bertani dengan baik, mampu menghasilkan panen lebih banyak dan berkualitas. Juga pelatihan pemasaran hasil panen, sehingga bisa menjadi sumber penghasilan tetap dan cukup buat memenuhi kebutuhan sehari-hari para anggotanya yang kebanyakan bekerja serabutan.

“Penyuluhan paling ada dari balai kecamatan. Kalau dari tingkat provinsi atau pusat itu belum ada,” tambahnya. “Harapannya semoga Bapak-bapak yang bertani di sini bisa mendapat hasil mencukupi dari mereka bertani. Lebih banyak lagi diadakan penyuluhan atau pelatihan tani yang ilmunya bisa betul diserap.”

Berawal Dari Petani Tauhid

Selain digunakan sebagai balai Posluhdes, di balai bambu ini juga jadi markas komunitas Petani Tauhid. Kalau Posluhdes beranggotakan bapak-bapak dengan minat pertanian dan sebagian memang berprofesi sebagai petani, maka Petani Tauhid ini adalah wadah bagi para remaja dan anak muda dengan tujuan menumbuhkan minat bertani. Meski berlatar santri dengan budaya pesantren, keanggotaan Petani Tauhid juga diisi oleh anak muda yang berprofesi sebagai buruh pabrik.

Kegiatan Petani Tauhid
(Kredit foto: Gustiar Facebook)

“Awalnya itu karena banyak anak muda sini cuma nongkrong sambil main hape, jadi daripada kegiatannya begitu melulu, mendingan di sini sambil belajar tani, garap lahan,” terang Pak Ali. “Makanya saya ajak Buluk buat menggerakan ini. Yakin saya kalau ini sudah jalan lancar, pasti banyak yang mau ikut (bertani).”

Mengenai Petani Tauhid, sebelumnya saya sudah sempat ngobrol-ngobrol dengan Kang Buluk, penggerak berdirinya komunitas.  Di Desa Kadu yang terkenal karena berdirinya banyak industri, sebagai pemuda dia lebih memilih hidup jadi pekerja serabutan dan bertani. Meninggalkan profesi  sebelumnya sebagai buruh di pabrik mentereng yang mampu membayar upah sesuai UMR ditambah insentif.

Berawal dari semakin sempit ruang terbuka hijau dan lahan pertanian di tanah kelahirannya Kampung Pasirandu, minat menanam dan bertaninya tumbuh. Dimulai dari hal kecil, pekarangan rumah orang tuanya disulap menjadi kebun berisi tanaman hias, tanaman obat, buah-buahan dan sayur-sayuran. Karena ketekunannya, Organisasi kepemudaan setempat bernama Kampas (Kesatuan Anak Muda Pasirandu Selatan) mempercayakannya untuk memimpin sayap organisasi yang fokus di bidang lingkungan hidup bernama Kampas Hijau. Kang Buluk aktif mengkampanyekan bercocok tanam kepada masyarakat, juga memberikan banyak bibit pohon dan pelatihan menanam.

“Menjaga alam, membuatnya indah dan merawatnya pun termasuk perbuatan baik yang mendatangkan pahala,” ucap Kang Buluk.

Kang Buluk, pertama dari kiri. Memanen sayur di lahan tidur milik korporasi.
(Kredit foto: Gustiar Facebook)

Sadar ruang geraknya masih terbatas, Kang Buluk menyambut ketika Pak Ali Suud mengajak untuk menggarap lahannya agar produktif. Latar belakangnya yang merupakan santri kobong mengilhaminya untuk mendirikan Petani Tauhid, yang punya moto ‘ngaji bari tani’. Memberdayakan para santri kobong di Kampung Pasirandu dan Sempur agar tetap produktif dan mencintai alam sambil mendalami ilmu agama.

“Selain masak nasi liwet dan ngaji bareng, kegiatan di Petani Tauhid ya tani, mulai dari padi sawah, jagung, sayur dan rempah. Kita juga membudidayakan kambing dan bibit berbagai macam pohon,” terangnya.

Menurut Kang Buluk, kendala terbesar menggerakan Petani Tauhid adalah mengajak anggota komunitas untuk solid selalu, tidak hanya di awal-awal atau di saat-saat tertentu. Selain itu, kendala lainnya adalah minimnya lahan, meski menurutnya bisa diatasi dengan cara menggarap lahan tidur milik korporasi sebelum benar-benar dibangun. “Saya pernah tanam kangkung di tanah PT sampai 100-200 ikat perhari, cuma sekarang gak dizinkan lagi karena katanya mau dibangun, tapi sekarang belum dibangun juga.”

Ke depan, Kang Buluk berharap Petani Tauhid bisa memberikan kontribusi semangat, kreativitas dan penguasaan teknologi yang dimiliki anak muda untuk dimanfaatkan ke dalam dunia pertanian agar menghasilkan panen melimpah dan memiliki nilai jual yang baik. Sehingga kultur agraris di Desa Kadu tidak betul-betul hilang karena alih fungsi lahan.