Penanaman padi sawah secara serentak di Kasepuhan Citorek.
(Foto: Sukmadi Jaya Rukmana)

Baru-baru ini, masyarakat Kasepuhan Citorek di Kecamatan Cibeber Kabupaten Lebak melakukan kegiatan penanaman serentak jenis padi sawah. Kegiatan tanam dimulai dari sawah tangtu atau sawah adat yang dilakukan oleh masyarakat adat Kasepuhan Citorek.  Prosesi penanaman pun sudah diatur secara adat.

Masyarakat Kasepuhan Citorek yang tersebar di 5 desa yaitu Desa Citorek Tengah, Desa Citorek Timur, Desa Citorek Kidul, Desa Citorek Barat dan Desa Citorek Sabrang menyambut kegiatan tanam tahun 2020 ini dengan gembira dan antusias. Orang tua, anak muda, laki-laki, perempuan semua terlibat dalam kegiatan penanaman.

Proses menanam padi di Kasepuhan Citorek.
(Foto: Sukmadi Jaya Rukmana)
Anak-anak pun dilibatkan sebagai upaya mewariskan adat dan budaya.
(Foto: Sukmadi Jaya Rukmana)

Inilah salah satu metode yang dilakukan oleh masyarakat Kasepuhan Citorek dalam menjaga stabilitas pangan atau swasembada pangan. Semua kegiatan pertanian terutama menanam padi diatur secara adat di Kasepuhan Citorek. Dalam peraturan adat, menanam padi hanya diperbolehkan satu tahun sekali tetapi hasil yang didapat saat panen cukup luar bisa banyak sehingga sudah tidak aneh kalau di Kasepuhan Citorek banyak lumbung padi yang dalam bahasa Sunda di sebut leuit. Hasil panen berlebih akan disimpan dalam leuit sebagai cadangan di hari depan.

Sawah tangtu merupakan areal persawahan yang dikelola oleh Kasepuhan Citorek dan memiliki unsur mitologi. Masyarakat Kasepuhan percaya bahwa mereka tidak boleh mendahului sawah tangtu, baik saat menanam padi atau saat panen tiba. Hal tersebut harus dipatuhi oleh semua masyarakat di Kasepuhan Citorek.

Mereka juga meyakini apabila hasil panen sawah tangtu bagus, maka hasil panen masyarakat juga akan bagus. Terkait benar atau tidaknya mitologi yang mereka yakini, kita bisa mengambil pelajaran bahwa pentingnya kebersamaan dan persatuan dalam menjalani kehidupan bisa kita contoh dari masyarakat Kasepuhan Citorek.

Kerjasama masyarakat dalam penanaman serentak di Kasepuhan Citorek.
(Foto: Sukmadi Jaya Rukmana)

Di Kasepuhan Citorek sistem pertanian ditentukan dengan metode astronomi. Misalnya untuk memastikan kapan waktu yang baik untuk bertanam padi di sawah, masyarakat Kasepuhan Citorek masih mengandalkan rasi bintang sebagai penanda. Mereka juga dapat menentukan kapan harus menghadapi musim kemarau yang panjang lewat rasi bintang. Mereka mengamati rasi bintang Waluku yang dalam ilmu astronomi modern dikenal dengan nama rasi bintang Orion. Jika bintang Waluku itu nampak pada waktu matahari terbenam, masyarakat Kasepuhan Citorek dapat menentukan permulaan dari dua belas musim yang mengatur tatanan pertanian mereka.

Sisi menarik dan sangat menonjol diantara banyak keunikan dari masyarakat Kasepuhan Citorek adalah terkait penjagaan adat dalam pengelolaan sistem pertanian padi yang mereka lakukan. Bagi mereka, bertani  bukan hanya sekedar aktivitas ekonomi semata terkait menanam, memelihara dan memanen. Lebih dari itu, bertani adalah bagian dari nafas budaya dan penjagaan adat istiadat dari leluhur mereka. Di sinilah diterapkan sebuah sistem pertanian yang terus dijaga ketat dalam aturan adat.

Kearifan lokal Kasepuhan Citorek kini terus dijaga oleh masyarakatnya sebagai warisan budaya yang memiliki nilai tinggi. Konsistensi masyarakat harus tetap dijaga dan terjaga dalam mempertahankan kearifan lokal agar warisan tersebut tetap lestari dan memberikan pelajaran bagi kita, para generasi muda tentang bagaimana kita seharusnya menjaga swasembada pangan. Kita sebagai generasi muda jangan pernah malu untuk menjadi seorang petani, karena menjadi seorang petani itu merupakan profesi mulia.

———————————————

Sumber:  Cerita langsung masyarakat kasepuhan citorek dengan penulis, puseurcitorek.blogspot.com, berbagai sumber lisan baik pemerintah desa, para baris kolot, tokoh masyarakat dan para pemuda penggiat budaya Citorek.