Kang Aef saat melakukan perawatan kebun miliknya.
(Foto: Sukmadi Jaya Rukmana)

“Zaman semakin maju modernisasi di mana-mana, anak muda tidak lagi mengenal cangkul dan garpu. Mereka asyik dengan gadget canggihnya.”

Kalimat di atas sangat cocok menggambarkan keadaan zaman sekarang, fase di mana generasi muda merasa gengsi untuk bertani. Tentu ini semua memang bukan sepenuhnya salah generasi muda, ini seperti menjadi bukti keberhasilan orang tua kita yang mengharapkan anaknya memiliki kehidupan lebih baik. Akan tetapi, generasi muda justru dituntut untuk lebih aktif di bidang pertanian sehingga sektor pertanian bisa berkembang dan mampu menyejahterakan para petani.

Saya merasa beruntung dilahirkan dari keluarga petani, orang tua mengajarkan saya bagaimana cara bertani tanpa harus kuliah di fakultas pertanian. Dan sekarang waktunya kita sebagai generasi muda untuk terjun langsung di bidang pertanian. Kita memiliki peluang besar untuk maju karena memiliki kreativitas dan didukung penguasaan teknologi yang sudah maju.

Apa yang saya rasakan juga dirasakan oleh teman-teman sesama mantri tani desa di Kecamatan Cibeber. Deri Gumilar misalnya, dia adalah peyuluh pertanian tingkat desa (mantri tani desa) yang saat ini melakukan pembinaan petani di Desa Sukamulya Kecamatan Cibeber Kabupaten Lebak, Banten. Menurutnya, jika melihat perkembangan zaman saat ini peran generasi muda sangatlah penting di sektor pertanian.

Deri juga menjelaskan, “secara umum kondisi pertanian di wilayah Kecamatan Cibeber sudah cukup baik, hanya saja masih butuh pengembangan lebih serius jika harus membandingkannya dengan perkembangan zaman. (Kecuali pada tanaman padi, di wilayah Cibeber cukup sulit untuk dijadikan penopang ekonomi masyarakat mengingat adanya hukum adat dan keterbatasan lahan sawah) Peran generasi muda sangat penting bagi pertanian karena generasi muda memiliki akses yang sangat mudah untuk mengikuti perkembangan zaman, meski pada kenyataannya saat ini peran generasi muda justru kurang di sektor pertanian.”

Deri Gumilar berharap adanya peran pemerintah yang lebih serius lagi agar generasi muda mau ikut terlibat di sektor pertanian, seperti mengadakan pelatihan, memfasilitasi dan atau mendatangkan tenaga ahli.

Melihat keadaan saat ini pantaslah kalau ada yang bilang Indonesia krisis petani muda. Bonus demografi seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan pertanian bangsa ini. Di tangan generasi muda harusnya itu tidak sulit dilakukan, mengingat akses informasi bisa di jangkau dengan cepat dan mudah pada saat ini.

Aef Kuswandi dan bro Juned yang merupakan anggota Komunitas Pemuda Pecinta Alam Citorek Kidul (KOMPACK), memiliki cara yang berbeda dalam menyikapi keadaan krisis petani muda. Mereka terjun langsung di sektor pertanian dengan mengembangkan berbagai macam tanaman, salah satunya tanaman cabe rawit dengan memanfaatkan teknologi informasi dalam kegiatannya.

Bro Juned yang berharap sukses di sektor pertanian.
(Foto: Bro Juned)

Aef menceritakan kendala yang di hadapi terkait pengembangan usaha taninya yaitu masalah permodalan. “Akses Pasar sementara ini cukup, kalau untuk pengembangan kendala yang dihadapi masalah permodalan,” ujarnya.

Aef berharap adanya dukungan pemerintah agar generasi muda mau bergerak di sektor pertanian. Pemerintah juga harus tegas, jangan biarkan kartel-kartel menguasai pasar (harga) karena itu akan menjadi masalah buat para petani. “Mereka (tengkulak) seenaknya memainkan harga, kadang harga yang mereka berikan dibawah standar,” ungkap Aef.

Saat ini memang dibutuhkan gerakan nyata dari semua pihak, bukan hanya sekedar wacana tanpa ada pergerakan. Apa yang dilakukan kang Deri Gumilar dan teman-teman mantri tani desa Kecamatan Cibeber selama ini mungkin harus lebih fokus lagi ke pembinaan generasi muda, agar generasi muda mau ikut terlibat di sektor pertanian. Kita bisa mencontoh pergerakan kang Aef Kuswandi dan bro Juned yang berharap bisa sukses di sektor pertanian.

Ratih Purwasih saat melakukan kunjungan lapangan ke kebun kang Aef Kuswandi
(Foto: Sukmadi Jaya Rukmana)

Hal senada diungkapkan Ratih Purwasih selaku mantri tani Desa Citorek Kidul yang sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Aef dan Juned. “Ke depan mudah-mudahan makin banyak generasi muda mau ikut terlibat di sektor pertanian,” harapnya.

Kita memang tidak bisa berbuat banyak untuk merubah bangsa yang agraris ini tetapi saya yakin kita bisa membuka jalan untuk generasi yang akan datang agar mampu mempertahankan julukan terhormat bangsa kita yaitu bangsa agraris. Salam perjuangan buat teman-teman mantri tani desa di Kecamatan Cibeber, terima kasih sudah jadi narasumber buat kang Deri Gumilar, kang Aef Kuswandi, bro Juned, dan Ratih Purwasih.

(Foto: Sukmadi Jaya Rukmana)