Ratih Purwasih, Mantri Tani Desa Citorek Kidul memanfaatkan pupuk kompos
(Foto: sukmadi Jaya Rukmana)

Akhir-akhir ini penurunan produktivitas tanaman menjadi masalah bagi para petani, hal tersebut diakibatkan oleh beberapa faktor. Salah satu penyebab menurunnya produktivitas hasil pertanian karena masalah tanah itu sendiri yang mengalami kejenuhan akibat pengunaan pupuk kimia yang dilakukan secara terus menerus. Selama ini petani kita lebih suka menggunakan pupuk kimia untuk memenuhi kebutuhan hara tanaman, karena dianggap lebih cepat diserap oleh tanaman.

Untuk memperbaiki kondisi tanah sebagai media tanam yang sudah terlalu jenuh bisa dilakukan dengan mengembalikan fungsi tanah sebagai media tanam, penggunaan kompos menjadi solusi terbaik yang bisa dilakukan. Membuat kompos itu sendiri sebenarnya tidak susah untuk dilakukan, bisa dimulai dengan memanfaatkan limbah rumah tangga yang berasal dari sisa-sisa makanan dan daun kering yang biasanya setiap pagi dikumpulkan lalu dibakar.

Penggunaan kompos sebagai media tanam untuk pemanfaatan lahan pekarangan
(Foto: Sukmadi Jaya Rukmana)

Serasah Daun Bambu Untuk Bahan Baku Kompos

Dikutip dari penelitian Annisa’ul Baroroh(i), serasah daun bambu ternyata mengandung unsur hara makro P dan K cukup tinggi sehingga berpotensi sebagai bahan baku pupuk kompos. Namun serasah daun bambu memiliki rasio C/N 35,82-38,27. Pupuk kompos seharusnya mempunyai komposisi kandungan unsur hara yang lengkap dengan rasio C/N 10-20, sehingga perlu adanya penambahan bahan baku lain untuk memenuhi kandungan unsur hara dan menurunkan rasio C/N serasah daun bambu. Blotong merupakan limbah padat hasil pemurnian nira dari pabrik gula. Blotong memiliki rasio C/N 7,28. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan unsur hara makro pada pupuk kompos yang dihasilkan dari serasah daun bambu dan blotong serta membandingkan dengan SNI 19-7030-2004, dan mengetahui perlakuan yang menghasilkan unsur hara makro paling banyak.

Serasah daun bambu dan blotong dikomposkan dengan aktivator EM4 dan kotoran sapi. Komposisi pencampuran bahan baku adalah dengan perbandingan I (1 kg blotong : 1 kg kotoran sapi) II (0,5 kg blotong : 0,5 kg serasah : 1 kg kotoran sapi) III (1 kg serasah : 1 kg kotoran sapi) IV (1 kg blotong : 50 ml EM4) V (0,5 kg blotong : 0,5 kg serasah : 50 ml EM4) VI (1 kg serasah : 50 ml EM4). Pengamatan dilakukan dengan menganalisis kandungan unsur hara makro yaitu C organik, bahan organik, N-total, P2O5, K2O, kadar air, C/N ratio dan parameter lingkungan yaitu suhu, pH dan kelembaban setiap satu minggu sekali.

Proses pengomposan berlangsung selama 6 minggu dan dihentikan ketika bahan sudah terbentuk sempurna yaitu hasil akhir kompos tidak berbau dan berwarna coklat kehitaman. Hasil analisis unsur hara makro pada pupuk kompos paling baik tersebut adalah C organik = 27,79%; bahan organik = 47,91%; N = 2,73%; P2O5 = 1,95%; K2O = 1,88%; C/N rasio = 10,18 dan kadar air = 24,44%. yaitu pada perlakuan II (0,5 kg blotong : 0,5 kg serasah : 1 kg kotoran sapi).

Dari hasil analisis yang dilakukan oleh Annisa’ul Baroroh tersebut sangat jelas pupuk kompos bisa menjadi alternatif bagi petani, dan kandungan hara kompos justru sangat lengkap untuk memenuhi kebutuhan hara tanaman. Selain itu kompos juga dapat memperbaiki kesuburan tanah. Penggunaan kompos atau pupuk hayati sebenarnya sudah dilakukan oleh nenek moyang kita dari dahulu.

Sawah Tangtu Dan Pupuk Hayati

Sawah tangtu atau disebut juga sawah adat yang berada di Kasepuhan Citorek merupakan contoh bahwa nenek moyang kita sudah mengenal manfaat dari penggunaan pupuk hayati walaupun tidak secara langsung dipraktekan seperti zaman sekarang. Sawah tangtu sampai saat ini tetap konsisten dengan tidak mengunakan pupuk kimia.

Menurut penelitian sederhana saya sebagai penyuluh pertanian tingkat desa, sawah tangtu mendapatkan pasokan hara dari aliran air yang digunakan untuk mengairi sawah, di mana air yang digunakan untuk mengairi sawah tangtu merupakan sisa buangan dari hasil limbah rumah tangga dan hasil fermentasi jerami padi secara alami sehingga terjadi pembusukan secara sempurna. Selain itu pada bagian hulu terdapat keramba ikan masyarakat, kotoran dari ikan dan sisa makanan ikan ikut menyumbang kelengkapan  unsur hara di sawah tangtu. Ketiga hal tersebut membuat kandungan hara di sawah tangtu cukup baik sehingga tidak perlu mengunakan pupuk kimia.

Apa yang terjadi di sawah tangtu harusnya menjadi pelajaran bagi kita bahwa penggunaan pupuk hayati bisa menjadi solusi di saat petani sudah ketergantungan terhadap pupuk kimia. Pupuk hayati (kompos) jauh lebih murah dibandingkan pupuk kimia yang makin tahun makin naik harganya, apalagi saat ini kelangkaan pupuk selalu terjadi di setiap daerah. Pupuk hayati (kompos) bisa menjadi alternatif. Selain itu kandungan hara pupuk hayati (kompos) cukup lengkap dan lebih ramah lingkungan.  Jadi, jangan mengaku petani millenial kalau masih mengunakan pupuk kimia, jadilah petani yang bijak dengan tetap menjaga keseimbangan alam.

—————-

(i)  – Annisa’ul Baroroh, Analisis Kandungan Unsur Hara Makro Pada Pupuk Kompos Dari Serasah Daun Bambu dan Limbah Padat Pabrik Gula (Blotong), (Surakarta: Universitas Negeri Sebelas Maret, 2016), hlm. abstrak. – https://digilib.uns.ac.id/dokumen/detail/51030/Analisis-kandungan-unsur-hara-makro-pada-pupuk-kompos-dari-serasah-daun-bambu-dan-limbah-padat-pabrik-gula-blotong