sebuah catatan mantri tani desa citorek tengah
Suasana pagi di Citorek
(Foto: Sukmadi Jaya Rukmana)

Hari ini, saya menulis bukan tentang sesuatu yang luar biasa. Hanya sepenggal perjalanan saya selaku penyuluh pertanian (Mantri Tani Desa) di Desa binaan saya, Desa Citorek Tengah. Kabut pagi yang terkadang membuat baju basah selalu menjadi sambutan saat saya harus bekerja. Tak lupa secangkir kopi hitam dengan gula aren selalu menjadi sajian wajib di pagi hari.

Desa Citorek Tengah mayoritas penduduknya sebagai petani. Suatu hal biasa bagi masyarakat petani di Citorek melibatkan kaum perempuan di bidang pertanian. Sistem pertanian di wilayah Citorek menganut sistem yang di atur oleh adat. Dengan sistem pertanian tradisional justru tidak begitu berdampak secara ekonomi, memang kalau di lihat dari segi ketahanan pangan model seperti itu cukup efektif.

Ada beberapa kelompok tani yang saya bina di Desa Citorek Tengah, salah satunya Kelompok Tani Mutiara Bumi yang dikomandoi oleh bapak Asmat. Kelompok ini konsisten bergerak di sektor pertanian dengan mengembangkan beberapa komoditas seperti cabai rawit, terong dan tanaman sayur. Tetapi kelompok ini memang masih butuh sentuhan inovasi agar mampu berdaya saing.

Mengenali Potensi

Sebagai seorang mantri tani desa dan sebagai putra Citorek saya dituntut untuk mampu menggali segala potensi yang dapat dikembangkan agar ke depan petani mampu berinovasi. Cara yang paling efektif adalah dengan melakukan pendekatan dengan petani, sehingga kita mampu menganalisa permasalahan dan mampu menggali potensi yang dapat dikembangkan.

Tidak mudah memang mengubah kebiasaan masyarakat petani yang sudah terbiasa dengan sistem tradisional ke arah petani yang produktif dan inovatif sehingga mampu meningkatkan ekonomi masyarakat. Perlu banyak kesabaran, mau mendengar masukan dan mau mencoba terjun langsung di lapangan. Karena kita secara tidak langsung menjadi figur yang dilihat banyak orang. Kita dituntut berhasil, mampu menangkap peluang, dan mampu berinovasi di bidang pertanian.

Potensi yang sangat luar biasa tercipta ketika sektor pariwisata di Wewengkon Citorek menggeliat, peluang pasar terbuka lebar tetapi permasalahannya tidak ada produk pertanian yang bisa diunggulkan. Di satu sisi saya justru melihat ada potensi lain yang terbuka yaitu pengembangan agrowisata yang bisa melibatkan generasi muda dalam praktek kegiatannya, tinggal bagaimana caranya generasi muda mau bergerak di bidang tersebut. Itu masih menjadi pekerjaan rumah.

Literasi Dalam Bertani

Aktivitas saya di Kanaya Farm
(Foto: Sukmadi Jaya Rukmana)

Bertani bagi saya seperti sedang membaca buku besar, belajar tentang tanaman, iklim, kesuburan tanah dan tentang bagaimana kita belajar bersinergi dengan alam. Bertani itu belajar tanpa henti, lahan pertanian ibarat sebuah sekolah tempat dimana kita belajar tentang alam. Hal-hal tersebut selalu saya tanamkan dan saya sampaikan setiap bertemu dengan para petani.

Petani khususnya di wilayah Citorek harus memiliki ilmu pertanian yang luas agar mereka mampu berinovasi, mandiri dan bermartabat. Untuk itu saya berpikir petani harus mau belajar, membumikan literasi di wilayah mereka. Anak-anak mereka harus dibekali ilmu pertanian baik dari orang tuanya maupun melalui buku tentang pertanian. Literasi menjadi penting untuk meningkatkan kompetensi generasi petani yang akan datang.

Mang Dedi Dan Anaknya

mantri tani desa citorek tengah berbincang dengan para petani
Bersama Mang Dedi
(Foto: Sukmadi Jaya Rukmana)

Mang Dedi adalah orang yang sering saya temui baik di kebun ataupun sekedar mampir di rumahnya. Dia memiliki seorang anak laki-laki yang usianya sekitar 8 tahun. Saya melihat ada yang unik dari mereka, semangatnya di bidang pertanian seolah menurun kepada anaknya, dia banyak bercerita tentang kendala dia saat bertani dan saya berusaha mencari solusi atas permasalahan yang di hadapinya.

Dari mereka berdua saya dapat belajar, belajar tentang kesabaran, belajar tentang betapa pentingnya ilmu khususnya di bidang pertanian, mereka tidak pernah mengeluh walaupun terkadang hasil pertaniannya kurang bagus. Tetap semangat menghadapi keadaan, dia (Mang Dedi) menyadari bahwa dirinya masih perlu banyak belajar lagi tentang pertanian.

Bertani Untuk Masa Depan

(Foto: Sukmadi Jaya Rukmana)

Menurunnya minat generasi muda untuk bertani menjadi amunisi tersendiri buat saya. Saya seperti memiliki arah untuk mengabdi. Saya merasa inilah waktunya untuk kembali membumikan pertanian di kalangan anak muda khususnya di wilayah Citorek. Saya mulai memikirkan langkah apa yang harus saya lakukan. Dari mana saya harus mengawali dan saya berkesimpulan ini harus di mulai dari diri saya sendiri, terjun langsung di bidang pertanian agar masyarakat tani yang lain ikut tertarik. Saya memberikan pandangan bahwa jadi petani tidak selalu identik dengan kotor. Jadi petani tidak selamanya harus berlumuran lumpur.

Zaman sudah maju, banyak cara yang bisa kita lakukan untuk bertani. Banyak metode modern yang bisa diterapkan di wilayah Citorek selama tidak berbenturan dengan adat dan budaya. Pertanian Citorek merupakan salah satu kearifan lokal yang sampai saat ini masih dijaga dan terjaga tapi tidak menutup kemungkinan generasi muda Citorek untuk berinovasi.

Hampir setiap hari saya bertemu dengan petani. Kadang saya belajar dari mereka atau mereka bertanya kepada saya terkait kendala yang mereka hadapi. Dari hasil perjalanan saya sebagai Mantri Tani Desa, saya melihat petani di wilayah binaan saya rata-rata adalah petani yang bertaninya secara tradisional. Mereka masih berpikir yang penting untuk keperluan mereka, yang penting tidak beli, padahal peluang di bidang pertanian sangat menjanjikan untuk masa depan baik secara ekonomi maupun ketahanan pangan. Tetapi memang perlu ada agen perubahan yang konsisten bergerak di bidang pertanian untuk merubah pola pikir dan kebiasaan mereka.

Perjalanan Yang Tidak Mudah

Wewengkon Citorek sebagian besar wilayahnya merupakan lahan pertanian, baik lahan darat atau sawah. Dengan masyarakat yang kental menganut adat dan budaya yang turun temurun mengatur kehidupan mereka. Begitu pula di bidang pertanian yang diatur secara adat. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya dimana perubahan yang akan kita bawa tidak boleh berbenturan dengan adat dan budaya di masyarakat. Secara sosial tantangan juga akan timbul ketika cibiran pesimistis hadir.

Ini tidak akan mudah, tetapi saya sangat yakin perjuangan saya membumikan pertanian yang inovatif mampu dijalankan. Dengan memanfaatkan gerakan literasi bagi anak muda, memberikan sentuhan inovasi secara perlahan, dan berjalan terus-menerus walaupun secara perlahan.


Catatan ini sekedar penyemangat buat diri saya sendiri, mudah-mudahan kita diberikan kekuatan dan kesehatan untuk tetap beraktivitas mengabdi untuk masyarakat, bangsa dan negara.