Ini adalah tulisan pertama dalam rubrik ekonomi kerakyatan di Banten Hejo. Alasan saya menyediakan rubrik ini adalah sebagai referensi alternatif tentang banyaknya produk UMKM di Banten yang sesungguhnya mampu bersaing secara kualitas. Tidak hanya produk yang dijadikan seremonial belaka dalam pameran-pameran tahunan, tapi juga produk yang layak dipasarkan, dibeli, dan digunakan di tengah banyaknya gempuran produk UMKM impor mengancam keberlangsungan para pelaku UMKM lokal. Sebab itu layak bagi para pelaku UMKM mendapat tempat dalam banyak penulisan.


anyaman bambu dalam sebuah peci
Peci Bambu Tangerang
(Foto: Agus Hasanudin/@bambupeci)

“Produk kopeah bambu ini sudah diikutkan expo di Serawak Malaysia. Respon pejabat cukup antusias dan mendukung, sebagian menggunakan dalam berbagai kegiatan bahkan sudah dijadikan ciri khas.”


Peci atau kopeah, atau biasa juga disebut songkok sudah lazim digunakan para pembesar negeri. Peci berwarna hitam terbuat dari kain beludru ini menjadi simbol nasionalisme semenjak pemuda bernama Soekarno dalam rapat Jong Java pada 1921 di Surabaya dengan lantang berkata “Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka.”

Adalah Agus Hasanudin, urang Cikupa asli yang pertama kali mempunyai ide untuk memadukan anyaman bambu ke dalam sebuah peci berbahan beludru. Saya biasa menyebutnya kang Agus, pendiri Komunitas Topi Bambu yang sudah sejak 2011 aktif mengangkat topi bambu sebagai sebuah kerajinan yang bersejarah di Tangerang tapi sudah terlupakan. Topi bambu kini hanya jadi salah satu simbol dalam logo Kabupaten Tangerang yang berarti ‘hasil kerajinan dan industri’.

kang agus mengenakan peci anyaman bambu
Kang Agus Hasanudin Mengenakan Peci Bambu
(Foto: Agus Hasanudin/@bambupeci)

Beberapa waktu lalu, saya sempat mewawancarai kang Agus lewat WhatsApp. Berikut wawancara singkat saya dengannya perihal peci bambu.

Sejak kapan kang ide membuat peci bambu ini muncul?

Idenya setelah kebijakan Kwarnas (SK Kwarnas No. 174 Tahun 2012) tidak pakai lagi topi bambu pramuka. Padahal sebelum kebijakan baru  tersebut, sekitar 8.000 kodi topi para pengrajin Tangerang dijual ke seluruh Indonesia setiap bulannya. Tepatnya 2016, banyaknya bahan topi yang tidak terpakai membuat saya memiliki ide untuk menjadikan bahan anyaman topi bambu jadi produk yang bernilai. Diversifikasi selain topi bambu fashion yang sudah ada sebelumnya.

Sudah ada berapa model atau motif peci bambu ini?

Model dan motif peci banyak. Bisa dilihat di instagram @bambupeci. Warnanya pun beragam, mulai dari hijau, ungu, merah dan hitam. Cuma orderan paling banyak itu yang warna hitam dengan motif anyaman polos karena mungkin terlihat lebih natural.

Adakah kendala yang dihadapi dalam produksi peci bambu ini?

Kendala bila ada order banyak produksi keteteran. Karena peci atau kopeah bambu ini masih ekslusif, tidak dijual secara masal.

Mengapa tidak bisa diproduksi masal, bukankah di Tangerang ini jumlah pengrajinnya ribuan?

Karena tidak semua pengrajin topi pramuka bisa membuat kopeah bambu. Untuk membuat produk bernilai jual tinggi termasuk topi fashion, kita terapkan standar dan quality control. Semisal ilaban (bahan anyaman dari bambu) yang digunakan itu lebih tipis, dan anyamannya pun lebih rapat dibanding topi bambu pramuka.

Saya lihat di Instagram @bambupeci banyak pejabat menggunakan peci ini, terlepas itu di-endorse atau tidak, bagaimanakah respon para pejabat terhadap produk ini?

Alhamdulillah, produk kopeah bambu ini sudah diikutkan expo di Serawak Malaysia. Respon pejabat cukup antusias dan mendukung, sebagian menggunakan dalam berbagai kegiatan bahkan sudah dijadikan ciri khas. Wakil presiden RI pun sudah menggunakan.  Memang awalnya kita endorse, tapi endorse dalam artian kita berikan sebagai cinderamata saja, syukur-syukur bisa dipakai dan ternyata memang dipakai yang membuat kita yakin bahwa produknya memiliki kualitas, selain nilai etnik dan historisnya tetap ada.

Mengenai hak cipta dan merk apakah peci ini sudah didaftarkan?

Untuk merk sudah didaftarkan di HAKI dengan merk ALF DIN.

Apakah tidak takut jika produknya dijiplak?

Kalau rezeki kan memang sudah ada jalannya masing-masing. Saya justru bersyukur kalau banyak pengrajin mau kembali nganyam, bisa membantu perekonomian. Yang jelas kalau mau beli kopeah bambu yang pertama kali ada ya merk ALF DIN, hehe.

Sejauh ini pemasarannya sudah sampai mana saja kang?

Hampir seluruh Indonesia ya. Untuk kopeah sendiri kita sudah ada permintaan dari Malaysia.

Harapannya ke depan mengenai peci atau kopeah bambu ini?

Harapannya semoga kopeah bambu ini menjadi produk inovatif dan kreatif asli Tangerang. Menjadi ikon kebanggan Tangerang. Kalau Bandung punya sepatu Cibaduyut, Pekalongan punya batik, kenapa Tangerang tidak?

Adakah masukan untuk pelaku UMKM di Banten supaya produknya tetap bertahan di tengah produk UMKM impor yang secara harga lebih murah dengan pemasaran lebih massive?

Pertama harus selalu memiliki inovasi produk dan tidak monoton. Kedua, kualitas produk harus tetap dipertahankan jika harga pesaing lebih murah dengan model yang sama. Dan ketiga, pelaku UKM wajib memiliki business plan, karena perencanaan merupakan faktor tercapainya tingkat keberhasilan.

Pertanyaan terakhir, jika ada yang ingin memesan peci bambu bisa ke mana?

Bisa kunjungi www.topibambu.com atau Instagram @pecibambu atau @topibambu.


Selain aktif sebagai pelaku UKM Bambu, Kang Agus juga sudah menulis buku ‘Kerajinan Topi Bambu di Tengah Arus Zaman’.