Tun Teja Ratna Benggala dalam lukisan karya Sharifah Kirana
(Sumber: https://facebook.com/FriendsofPMNP/)

(LELAKI) FLAMBOYAN

Separoh sapamu
Adalah mimpi perempuan
Untuk menemani istighfar
Ketika sendiri, bercinta juga bersendawa

Solo, 2019


PARANOID (1)

Kemudian tak pada sesiapa, degup ku jaja
Biar saja larut dalam kopi mocha
dan ku seduh sebelum dhuha
sungguh, aku jengah, menggadang gairah
: secarik kencan
di musim sang pejantan

Solo, 2011/2017


NARASI TUN TEJA

: Hang Tuah

1.
Di bawah tandu sejarah, kisah cinta ini bubrah
Kau memilih bersetia untuk Malaka
Dan aku upetinya
Menjalani takdir sebagai istri kedua sang raja
Dimana aku pernah menolaknya

Dengar, Han
Aku terluka dalam kemewahan
Sebab hatiku terlanjur wuyung, pada kasih sayangmu yang lebat anggun
Dulu

Sebelum akhirnya garis tangan menari
Menetapkan rindu kita terpungkasi
Demi kelangsungan sebuah negeri
Kau tetap menjadi laksamana
Sedang aku diam-diam mencoba amnesia
Mengubur dalam episode cintamu di Indrapura

2.
Aku tak bisa janji apa-apa, Hang Tuah
Tapi bila waktu merestui
Hanya namamu yang bergetar di nadi

Solo, 2018


Y O E

Kemasi saja mimpi ini, Yoe
setelah waktu gagal menuju bahtera
apalagi yang kau susun di kepala ?
pagi \tak pernah toleran, bagi dua iman dalam akad
maka undur diri menjadi pilihan untuk kupatuhi
menjauh dari jengkal pertemuan
dan melupakan takwil kebersamaan
tak perlu mengenang romantisme gerimis awal malam
aku & kau hanya pelaku garis tangan

Kemasi saja mimpi itu, Ananta
sebab matahari sepertinya berbau tuba
melukai dadaku saat beberapa

Solo, 2017


KAMAR PERAWAN

Bayang masa lalu adalah ornamen atas dinding
Mengakrabi boneka, laptop dan kangen yang enggan sampai
Sementara bantal sibuk berolek
Menyambut mimpi juga janji absurd
Yang terlipat di balik selimut
Sembari melempar tanya pada mukena
Sampai kapan malam membaptis kesepian?

Solo, 2013