Ajat Sudrajat (rompi hitam) saat memberikan santunan kepada warga jompo.
(Foto: Sukmadi Jaya Rukmana)

Dalam tulisan kali ini saya ingin menceritakan tentang orang-orang  yang menurut saya sangat menginspirasi. Apa yang mereka lakukan, tak lain untuk kemajuan masyarakat khususnya masyarakat di desanya dan untuk kehidupan yang lebih baik dijalani dengan keikhlasan.

Adalah Ajat Sudrajat, Kepala Desa Citorek Tengah Kecamatan Cibeber Kabupaten Lebak, Banten. Beliau merupakan seorang kepala desa yang masih muda, visioner dan berani mengambil peluang untuk kemajuan desanya. Beliau terbuka dan mau bekerja keras untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat desanya.

Awalnya saya berpikir biasa saja, wajar bahwa beliau melakukan hal tersebut. Tapi setelah mengenal lebih jauh cara berpikirnya saya mulai berubah pikiran. Saya melihat ada semangat yang selalu dijaga, ada harapan yang selalu ditanamkan. Dari beliau saya belajar bagaimana kita seharusnya menjalani hidup sebagai manusia yang memuliakan manusia, karena jabatan yang diemban hanyalah perhiasan dunia yang bisa dengan mudah diambil oleh sang pemilik-Nya setiap saat.

Di tengah permasalahan yang saat ini dihadapi bersama, kita butuh banyak sosok orang seperti Ajat Sudrajat. Kita butuh orang-orang yang mampu menjaga empati dan simpati, bukan hanya karena jabatan baru mau berempati. Kita butuh orang-orang visioner yang mau bekerja keras atas dasar kemanusiaan untuk kemajuan daerahnya.

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk memajukan daerah kita, tanah kelahiran kita juga bangsa kita. Kalaupun tidak mampu mengubah secara luas, lakukan saja hal-hal kecil yang bisa kita lakukan, bukankah sebuah perubahan besar diawali dari hal-hal yang kecil dan sederhana?

Dari sosok Ajat sudrajat saya mulai paham bahwa pergerakan untuk membangun generasi yang unggul bisa dimulai dari diri sendiri dengan menjaga semangat, menjaga harapan dan tetap bermanfaat buat orang lain. Terlepas dirinya sebagai kepala desa, saya melihat beliau sebagai orang biasa yang memiliki kecintaan terhadap kampung halaman.

Asmat, bekerja di kebun miliknya dengan penuh keikhlasan dan sukacita.
(Foto: Sukmadi Jaya Rukmana)

Cerita saya beralih kepada Asmat, seorang petani yang kesehariannya beraktivitas di lahan miliknya sendiri. Bertani baginya seperti sudah menjadi kewajiban, sebuah panggilan yang harus dijalani dan kelak bisa diwariskan kepada anak-cucu.

Dari seorang petani bernama Asmat saya banyak belajar untuk tetap menjaga kesabaran, untuk mau terus belajar, mencoba hal-hal baru yang kelak akan bermanfaat buat kehidupan. Beliau tidak merasa gengsi dengan profesinya karena beliau punya keyakinan bahwa setiap manusia punya jalan hidup yang berbeda dan harus dijalani dengan ikhlas dan penuh sukacita.

Bangsa ini butuh Asmat-Asmat yang lain yang mau bekerja dengan keikhlasan dalam menjalani profesinya. Memiliki semangat untuk terus mencoba hal-hal baru yang kelak bisa dibagikan kepada orang lain.

Dari kedua orang yang saya ceritakan tersebut, saya melihat banyak pelajaran yang bisa didapatkan. Terlepas dari jabatan atau profesi kita sebagai apa; membangun generasi yang unggul yang memiliki semangat untuk kemajukan, berkarakter, mandiri dan bermartabat adalah kewajiban kita sebagai manusia.

Memang akan terasa rumit apabila melihat seseorang dari jabatan, gelar atau profesinya. Tapi saya  melihat dari sisi yang berbeda, yaitu dari sosok seorang manusia biasa. Di masa depan, Citorek perlu memiliki banyak orang-orang yang peduli, mau bekerja dan mampu menangkap peluang untuk perubahan dan kemajuan. Yang mau terus belajar mencoba hal-hal baru dan tentu menjalaninya dengan ikhlas.

Apapun yang kita dapatkan adalah apa-apa yang kita cari, dan yang kita dapatkan ditentukan oleh kadar keikhlasan di dalam diri sendiri.