Opini

Bertani Merawat Bumi Menuju Pariwisata Berkelanjutan

(Foto: Sukmadi Jaya Rukmana)

Ini sekelumit kisah saya selaku Mantri Tani Desa (MTD), berinteraksi dengan para petani sudah menjadi rutinitas bagi saya. Menjadi penyuluh pertanian merupakan sesuatu yang unik dan menarik,  banyak hal yang bisa dipelajari dari dunia pertanian termasuk problematika kehidupan petani, terutama para petani yang sekaligus sebagai masyarakat adat Citorek yang menjadikan pertanian sebagai kearifan lokal yang sudah membudaya.

Bagi masyarakat adat, menjaga stok pangan sangatlah penting, tetapi bukan berarti mereka harus terus mengeksploitasi lahan secara terus menerus. Mereka melakukan sistem pertanian dengan tetap menjaga keseimbangan alam. Kemajuan zaman mungkin sedikit memengaruhi dalam praktek-praktek sistem pertanian yang mereka lakukan secara turun temurun tersebut. Dalam perjalanannya memang mulai ada pergeseran dari sistem tradisional ke sistem semi-modern dengan hadirnya alat-alat mesin pertanian dan pengunaan pupuk kimia. Tapi dalam hal menjaga stok pangan, masyarakat adat tetap konsisten.

Penggunaan pupuk kimia menjadi problem tersendiri ketika ada beberapa jenis pupuk kimia yang sudah terlanjur menjadi kebiasaan para petani. Masalah muncul ketika subsidi pupuk kimia dicabut oleh pemerintah yang membuat harga pupuk meroket tak terjangkau. Sebagai penyuluh pertanian, mahalnya harga pupuk kimia menurut saya merupakan suatu masalah tapi juga peluang terbaik untuk kembali mengingatkan pentingnya penggunaan pupuk organik.

Kita tentu tahu betapa luar biasanya orang tua kita terdahulu dalam bertani, mereka bisa menggunakan pupuk organik dan tetap swasembada pangan. Peran generasi muda sangat penting dalam mengingatkan hal ini.

Generasi muda harus terlibat aktif di dunia pertanian agar mampu menciptakan inovasi-inovasi yang tetap menjaga kearifan lokal. Inovasi pengunaan pupuk organik harus dikembangkan agar lebih efektif dan efisien dalam pengunaannya. Kita Harus bersyukur hidup di negara yang memiliki sumber daya lahan, agroklimat dan hayati yang dapat dikelola sebagai modal dasar melalui peran sektor pertanian. Tentunya dengan pemanfaatan yang memperhatikan keseimbangan alam dengan pengunaan pupuk dan pestisida organik (alami).

Dalam kultur masyarakat adat, bumi atau tanah merupakan bagian terpenting dalam kehidupan. Masyarakat adat percaya bahwa bumi atau tanah adalah ibunya kehidupan yang melahirkan kehidupan bagi umat manusia. Sebab itu, dalam proses pemanfaatan tanah untuk bercocok tanam mereka tetap memperhatikan keseimbangan tanah seperti hanya menanami lahan mereka satu tahun sekali. Layaknya seorang ibu setelah melahirkan yang membutuhkan waktu untuk mengumpulkan kekuatan, tanah yang kita gunakan pun butuh jeda waktu untuk mengembalikan fungsi dan unsur hara bagi kebutuhan musim tanam berikutnya.

Sebagai seorang penyuluh yang lahir dari orang tua petani yang memegang teguh kearifan lokal, tentu membuat saya jadi lebih memahami karakter petani di wilayah binaan yang masih memegang teguh kearifan lokal. Saya dapat belajar bagaimana harus bersinergi dengan alam yang telah memberi penghidupan.

Dalam perjalanan saya mulai berpikir bagaimana petani-petani yang ada di wilayah binaan saya yang merupakan wilayah adat memiliki keuntungan lebih. Selain menjaga ketahanan pangan, mereka juga harus terangkat kesejahteraannya melalui sektor ekonomi. Memang posisi pertanian sebagai pilar (???? ????) ekonomi tak butuh pengakuan mengingat peran sektor pertanian dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia berupa pangan, sandang, papan dan energi terbarukan sangatlah dominan. Tapi dalam prakteknya, sektor pertanian tidak bisa berjalan sendiri, dibutukan peran sektor yang lain.

Perlunya kolaborasi sektor pertanian di wilayah adat dengan sektor yang lain menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi saya, diperlukan langkah yang tepat agar tidak merusak atau bertabrakan dengan tatanan kearifan lokal yang di pegang teguh masyarakat. Memang terdengar aneh jika seorang penyuluh pertanian harus juga memikirkan hal-hal di luar sektor pertanian, tetapi ini menjadi kewajiban bagi saya sebagai orang yang terlahir dan dibesarkan di wilayah adat.

Melihat berbagai potensi di desa yang saya bina dan desa kelahiran saya yang begitu dominan di sektor pertanian dan bentang alam yang luar biasa dengan flora dan fauna yang tergolong masih baik, bersama teman-teman yang memiliki semangat yang sama dengan saya, kami mulai membangun mimpi menjadikan tanah kelahiran kami sebagai tempat atau tujuan wisata dengan tetap menjaga kesakralan kearifan lokal. Mengkolaborasikan sektor pertanian dan sektor pariwisata dianggap sangat cocok dan mampu diterapkan karena nantinya bukan hanya dua sektor tersebut yang akan terlibat, peluang pasar dari hasil panen para petani terbuka lebar. Sektor pariwisata akan melibatkan banyak orang nantinya tapi harus ada batasan agar kearifan lokal yang dipegang turun temurun tetap terjaga.

Butuh konsep yang tepat dalam kolaborasi sektor pertanian, budaya (kearifan lokal), alam dengan sektor pariwisata. Konsep desa wisata merupakan konsep yang paling tepat diterapkan saat ini mengingat desa wisata merupakan sebuah kawasan atau desa yang memanfaatkan segala potensi yang dimiliki sebagai atraksi wisata berbasis masyarakat. Dalam proses pemanfaatan potensi yang dimiliki tetap harus memperhatikan dampak sosial budaya dan lingkungan. Sektor pertanian memiliki peluang besar untuk menjadi daya tarik bagi wisatawan dengan sistem pertanian yang ramah lingkungan. Menempatkan lahan sebagai media sinergitas antara manusia dengan alam, bukan eksploitasi kebablasan.

Praktek-praktek pertanian alami yang sudah diterapkan sebelum mengenal pupuk dan pestisida kimiawi harus kembali dipraktekan agar nantinya menjadi sebuah magnet tersendiri. Wisatawan akan merasa aman dan nyaman saat mereka mengetahui bahwa produk pertanian yang menjadi oleh-oleh atau mereka makan dihasilkan dari sebuah sistem pertanian tanpa residu bahan berbahaya. Sistem pertanian alami juga bisa menjadi atraksi wisata edukasi bagi wisatawan dan generasi yang akan datang.

Perjalanan ini masih panjang karena pekerjaan rumah terbesar yang saya hadapi adalah membangun Sumber Daya Manusia unggul agar potensi yang ada dapat termanfaatkan secara bijak dan masyarakat tetap bermartabat dengan kearifan lokalnya. Bukan membangun destinasi yang tanpa konsep dan berujung pada keserakahan para pemilik modal dengan menjadikan sumber daya lahan menjadi ladang subur berkembangnya kapitalis agraris yang tidak peduli pada kelestarian alam.


Bantenhejo.com adalah media jurnalisme warga dan berbasis komunitas. Isi tulisan dan gambar/foto sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Untuk sanggahan silahkan kirim email ke bantenhejo[at]gmail.com.


Tentang Penulis

Mantri Tani di Desa Citorek Tengah, Kecamatan Cibeber, Lebak Banten.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.