Desa

Resensi: Menuju Inklusivitas Pada Perempuan dan Anak

Sampul buku PEREMPUAN DAN ANAK: Pemberdayaan dan Perlindungan Masa Depan yang Inklusif
(Foto: Yayasan Sanggar Inovasi Desa)

Perempuan dan anak adalah dua hal yang selama ini masih dirasa eksklusif,  kedudukan dalam perspektif kesataraan gender  belumlah  inklusif  bila dihadapkan pada kedudukan laki-laki dan orang tua. Padahal dalam pandangan agama Islam, atau dalam agama lainnya, kedudukan manusia adalah sama. Kedudukan manusia adalah sama dihadapan Allah SWT, demikian pula dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara mereka mempunyai hak asasi yang sama. Menjadi sebuah PR bersama untuk membalikkan status perempuan dan anak yang eksklusif ini menjadi lebih inklusif.

Dalam tulisannya Myra Diarsy mencontohkan sebuah gerakan yang dilakukan masyarakat Urban Care Semarang, yang memang di dominasi oleh perempuan. Komunitas Urban Care Semarang menggerakkan kesadaran bersama melalui gerakan membagikan bahan pangan dengan menggantungkannya di sekitar lingkungan tempat tinggal warga.  Gerakan ini diberi nama Jogo Tonggo, yang dalam bahasa Indonesia  berarti jaga tetangga.

Hal senada dituliskan oleh Wakhit Hasim , bahwa menurutnya perempuan dan anak merupakan isu yang bersifat universal. Tidak hanya di masa pandemi. Ia mencontohkan yang terjadi di Desa Setupatok, Kecamatan Mundu, Cirebon, Jawa Barat, berdasarkan pengamatan, memiliki situasasi sosial ekonomi dengan tingkat kemiskinan yang cukup tinggi. Akibatnya semua aspek di dalam tatanan desa termasuk keluarga merasakan dampaknya.

Oleh karena itu, kehadiran Yayasan Wangsakerta Cirebon ditengah masyarakat desa Situpatok bertujuan untuk merevitalisasi fungsi desa melalui fungsi tanah yang dalam hal ini adalah pertanian. Wangsakerta lebih aktif mengajak kaum laki-laki untuk kembali mengolah tanah , baik yang ditinggalkan pemilik, tanah yang bebas diolah, maupun tanah yang masih menjadi milik pribadi.

Ema Husein, melalui  tulisannya memaparkan pendapat  berbeda,  Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK) merupakan sebuah gerakan yang lahir atas keprihatinan yang disampaikan oleh survei yang dilakukan KPK pada tahun 2012-2013 di kota Solo dan Yogyakarta. Studi ini menyajikan fakta bahwa ternyata hanya 4% orang tua yang mengajarkan kejujuran pada anak-anaknya. Ibu sebagai basis pendidikan pertama bagi anak diharapkan mampu menanamkan nilai dan sikap kejujuran. Jika hal itu terjadi, maka akan terbentuk bibit generasi yang terbebas dari perilaku korup.

Oleh karena itu, SPAK  memulai perubahan dari lingkungan terkecil yang kemudian nantinya akan berpengaruh pada lingkungan yang lebih luas. SPAK menjadi gerakan kolektif, yang menyasar perubahan cara berfikir dan pola perilaku generasi yang mulai dari lingkungan keluarga, melalui peran perempuan sebagai ibu. Ia menggambarkan masyarakat desa Mallari, Bone, Sulawesi Selatan, memiliki kesadaran bahwa perubahan dapat dimulai dari desa.

Pemberdayaan dan Perlindungan Masa Depan Inklusif

Sementara menurut Hasan Aoni Aziz bahwa perempuan dan anak merupakan kelompok rentan terdampak Covid-19 baik dari aspek kesehatan, sosial, maupun ekonomi.  Salah satunya dapat dilihat dari peningkatan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di masa pandemi. Laporan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Apik Indonesia menyebut jika jumlah pengaduan kasus kekerasan meningkat lebih dari 51 persen.

Berdasarkan data Sistem Informasi Online PPPA (Simfoni-PPPA), rentang 2 Maret hingga 25 April 2020, terdapat 275 kasus kekerasan perempuan dewasa dengan total korban 277 orang. Selanjutnya, terdapat 368 kasus kekerasan anak dengan korban sebanyak 470 anak. Sehingga semestinya pandemi Covid-19 bia dijadikan momentum “paksa” untuk mengembalikan pasangan suami-isteri kerap berada di rumah, menata keharmonisan keluarga, dan berpeluang menjadi hari keluarga terlama sepanjang sejarah.

Anak yang selama ini dipandang sebagai objek pengaturan, dianggap belum dewasa, tidak memiliki ketrampilan dan kemampuan mandiri, terbukti melalui upaya pengembangan bakat dan minta menghasilkan berbagai kreasi di berbagai bidang. Simpulan ini diperoleh berdasarkan pengalaman mengelola potensi dan minat anak serta ibu di Omah Dongeng Marwah (ODM) di Kudus, Jawa Timur.

Berdasarkan pengalaman di ODM, relatif berhasil melindungi perempuan dan anak dari tindak kekerasan, sekaligus berpeluang menyetarakan relasi perempuan terhadap laki-laki. Saatnya desa menjadi pusat pengembangan peradaban Indonesia  di masa yang akan datang pasca pandemi Covid-19.

Dalam tulisan yang lainnya, Diah Irawaty menekankan bahwa kekerasan seksual merupakan kejahatan pandemi (pandemic crime) dengan tingginya jumlah pelaporan kasus, antara lain disebabkan oleh dominasi patriarki, stigma, ketidakberdayaan ekonomi dan sosial, dan pelaku yang tidak dipersekusi.  Sistem hukum dan sosial yang tidak mendukung korban semakin membuat korban terpuruk. Stigmasi,  reviktimisasi (victim blaming), budaya tabu atau malu, membuat persoalan kekerasan seksual menjadi kompleks dan semakin sulit diurai.

Sudut pandang berbeda lagi disampaikan oleh Muniri lewat tulisan yang tertajuk “Efektivitas Program Psikoedukasi Prevensi Intensi Pernikahan Dini” memaparkan data terbaru 2019, untuk khusus Kabupaten Bangkalan, menunjukkan penurunan kurang lebih 4,33% setelah 8 tahun  dengan jumlah persentase 19,8%. 

Kelebihan dan Kelemahan Buku

Buku ini berisi pengetahuan untuk mencoba menjawab terkait persoalan-persoalan perempuan dan anak, bagaimana peran dan anak dalam Desa menuju Tatanan Indonesia Baru, strategi – strategi yang dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak di tengah pandemi Covid-19, strategi dan mekanisme pertahanan keluarga yang bisa dilakukan perempuan dalam rangka penanganan krisis finansial dalam keluarga akibat Covid-19.

Penggunaan bahasa yang terlalu ilmiah, barangkali bisa menjadi kelebihan dan kelemahan buku ini, menjadi kelebihan karena dengan adanya istilah-istilah baru terutama bagi penulis, peneliti karena dapat belanja sekaligus memperkaya kosa kata. Sementara di pihak lain, kosa kata yang terlalu ilmiah membuat bingung bagi pembaca dari warga desa, karena mereka harus sibuk dengan  mesin pencari atau harus membuka kamus. Performa buku yang kurang mendukung konten buku pengetahuan  sebagus itu, seperti kertas cover, dan  kertas cetak, serta sistematika buku juga tidak tersusun dengan baik, tidak adanya bab per bab. Pendahuluan, isi atau konten, penutup merupakan kelemahan dari buku ini.

Identitas Buku

Judul Buku                                          :  PEREMPUAN DAN ANAK : Pemberdayaan dan Perlindungan Masa Depan Inklusif

Dewan Redaksi                                   :  Wahyudi Anggoro Hadi, Ryan Sugiarto, Ahmad Musyaddad, Any Sundari, AB Widyanta, dan Sholahuddin Nurazmy

Penerbit                                               :  Yayasan Sanggar Inovasi Desa

Cetakan                                                :  Pertama,  Agustus 2020

Ukuran Buku                                      :  13  x 19 cm

Tebal Buku                                          :  xxxiv + 130  halaman

ISBN                                                   :  978-623-94663-5-0

Judul Resensi                                       : Menuju Inklusivitas Pada Perempuan dan Anak

Resensator                                           :  JUNAEDI, S.E.


Bantenhejo.com adalah media jurnalisme warga dan berbasis komunitas. Isi tulisan dan gambar/foto sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Untuk sanggahan silahkan kirim email ke bantenhejo[at]gmail.com.


Tentang Penulis

JUNAEDI, S.E., Lahir 06 Januari 1974, Lulusan S1 STIE Widya Wiwaha Yogyakarta (1999), bekerja di Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID) Panggungharjo Sewon Bantul DI Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.