Banner Jumat nge Banten ‘Pesta Puisi’.

Saya mulai tulisan ini dengan salah satu puisinya Subagyo Sastrowardoyo berjudul: Kata

Asal mula adalah kata
Jagat tersusun dari kata
Di balik itu hanya
Ruang kosong dan angin pagi.

Kita takut kepada momok karena kata
Kita cinta kepada bumi karena kata
Kita percaya kepada Tuhan karena kata
Nasib terperangkap dalam kata.

Karena itu aku
bersembunyi di belakang kata
Dan menenggelamkan
diri tanpa sisa.

Hidup kita, setelah terpenuhinya kebutuhan biologis atau biological need, juga menuntut terpenuhinya kebutuhan ruhani, karena manusia tak sekedar daging dan tulang semata, namun juga jiwa dan pikiran yang menyatu dalam badan. Diantara kebutuhan ruhani itu adalah kegandrungan manusia pada keindahan hingga rengkuhan kasih sayang dan cinta, dan sastra adalah diantara medium sekaligus wujud pemenuhan kebutuhan alamiah atau takdir kodrati tersebut.

Di sisi lain, karena kegandrungannya untuk mencari sekaligus mengolah kearifan hidup, sastra dapat saja dikatakan sebagai sains yang artistik atau estetik, hingga sejumlah filsuf, menyebut sastra sesungguhnya adalah upaya untuk memaknai dan menyingkap relung relung eksistensial dan kawah kawah maknawi hidup manusia, Martin Heidegger sebagai contohnya, yang menyatakan bahwa puisi puisinya Friedrich Holderlin telah menyadarkannya tentang “Ada” dan hidup di saat para filsuf dan para ilmuwan modern melupakannya.

Bila demikian, sastra tentu saja bukan omong kosong atau keganjenan alias kecentilan tanpa makna yang disampaikan dengan bahasa. Sebab, sebagaimana dinyatakan Horace, ribuan tahun silam, sastra adalah penggunaan bahasa secara indah atau artistik untuk menyampaikan kearifan dan wawasan kebijaksanaan. Jadi, sastra akan membentuk kecerdasan atau kekuatan karakter manusia dalam hidup, punya fungsi character building, dan terus menerus menciptakan kondisi pembelajaran bagi kemanusiaan.

Dengan kesadaran itu, tidak heran bila di masa lalu, materi utama pembelajaran anak anak para raja, sultan atau para kaisar adalah sastra hingga ulama ulama besar Islam yang tidak lain juga adalah para pengarang dan para penulis produktif.

Di masyarakat Arab pra Islam hingga era Islam, sebagai contohnya, ukuran kehebatan para tokoh mereka adalah kemampuan menulis puisi indah yang akan dipamerkan di Festival Pasar Ukaz, dipampang di dinding Ka’bah. Di kemaharajaan India dan Kekaisaran Persia, kecerdasan dan kepintaran anak para raja dan kaisar diukur dan dinilai juga dalam kadar sastranya, terutama puisi. Maka tidak heran bila peradaban itu pun telah melahirkan epos epos sastrawi agung semisal Bhagavad Gita di India, Rushtam dan Sohrab serta Shah Nameh di Persia. Sementara negeri kita sendiri melahirkan I La Galigo yang ternyata lebih monumental ketimbang Iliad-nya Homer dari Yunani itu.

Secara filosofis, sastra adalah wujud refleksi sekaligus sikap afirmatif pada hidup dan kehidupan manusia, refleksi dan afirmasi kemanusiaan menempuh langkah langkah di kelokan dan jejalan sejarah manusia yang acapkali menghadirkan tanya dan jebakan jebakan ironik takdir manusia sebagai individu dan masyarakat. Hingga, ketika ia mengemukakan pendapatnya tentang puisi, filsuf Aristoteles sampai menyatakan bahwa puisi lebih filosofis ketimbang sejarah, dan tentu yang ia maksud adalah puisi yang mengandung hikmah dan pengajaran hidup manusia. Sejalan dengan pernyataan Aristoteles, sastra memang seringkali merupakan buah sikap dan perilaku intim afirmatif manusia pada hidup dan kehidupan manusia itu sendiri. Dalam hal demikian, saya bisa mencontohkan salah satu puisinya Mansur Samin yang berjudul Tukang Kebun:

Betapa sering di sore hari
Kami berjumpa di pojok jalan ini
menyajikan senyum dia menghormati mesra sekali
sambil mengetam bunga-bunga: Apa kabar saudara?

Kemudian kami jarang berjumpa
hidupku disibuki zaman yang sukar ini
tapi penggantinya tadi menuding ke arah sana
di bawah cemara kini kuburnya alangkah sunyi.

Puisi Tukang Kebun-nya Mansur Samin itu adalah contoh puisi yang indah dan padat, justru ketika bahasanya konkrit dan bersahaja, sebuah puisi yang menggambarkan nasib wong cilik yang sunyi dan dilupakan narasi besar sejarah, menyiratkan rasa ironis yang hendak disampaikannya agar pembacanya tergugah atau terilhami untuk bersimpati kepada nasib wong cilik, si tukang kebun atau pekerja taman, yang sunyi, prihatin dan dilupakan narasi besar sejarah. Bila kita meminjam wawasan kritikus sastra terkemuka, I. A. Richards, maka puisi itu adalah contoh puisi yang bagus dan berhasil sebagai karya sastra, yang mengandung empat hal:

  1. Tema atau makna (sense), yaitu apa yang ingin disampaikan atau dikemukakan kepada kita sebagai pembaca, semisal perjumpaan dan pengalaman hidupnya dalam keprihatinan atau kesulitan hidup bersama si tukang kebun, diungkapkan dengan nada atau suasana ironis. Singkatnya, puisi itu memiliki subject matter.
  2. Rasa (feeling), yaitu suatu sikap (attitude) si penyair terhadap/atas persoalan (isu).
  3. Nada, yaitu sikap penyair terhadap pembacanya, yang berhubungan erat dengan tema dan rasa yang terkandung dalam puisi, di mana tekanan yang dilakukannya dapat melahirkan reaksi kita sebagai pembaca, semisal rasa simpati atau marah pada keadaan atau situasi yang digambarkan dan diangkatnya dengan sebuah puisi, dan
  4. Tujuan, yang dalam hal ini setiap penyair, disadari atau tidak, senantiasa memiliki maksud yang ingin ia komunikasikan melalui puisinya, semisal sikap dan pandangan hidupnya sendiri. Karena itulah kerapkali, kita menjumpai puisi puisi yang religius hingga meditatif dan filosofis.

Dalam panggilan puitik yang telah dicontohkan, peran penulis, sastrawan atau peran para penyair memang tak ubahnya kerja promothean yang terus menyalakan api kesadaran dan pencerahan kemanusiaan dalam jalan sejarah.

Dalam bukunya, The Way of Being Free, penulis Afrika Ben Okri mengungkapkan, “Jika engkau ingin mengetahui apa yang berlangsung di sebuah zaman, cari tahulah apa yang terjadi dengan para penulisnya.”

Apa yang diungkapkan Ben Okri itu tentu bukan bermaksud mendramatisir yang sifatnya berlebihan, tetapi lebih ingin menekankan bahwa kerja kepenulisan adalah kerja intelektual, pembebasan yang sekaligus kerja historis dan kultural. Para penulis acapkali melawan ketidakjujuran dan korupsi atau tirani yang melumpuhkan ruang ruang kemerdekaan dan kebebasan manusiawi. Baca saja tulisan-tulisannya Ali Syariati, Albert Camus, Nawa El Saadawi, dan lainnya, untuk menyebut sedikit penulis sebagai contohnya.

Masyarakat bisa jadi bungkam dalam ketakutan karena intimidasi tirani, tetapi para penulis-lah yang mengambil sikap untuk bersuara.

Di sini kita bisa menyebut nama nama seperti Anna Akhmatova, Rendra, Garcia Lorca, Boris Pasternak, dan lainnya, yang dengan puisi puisi dan prosa prosa mereka menyuarakan perlawanan politis terhadap rezim otoriter di negeri mereka masing-masing, atau seperti Nawa El-Saadawi yang dengan novel-novelnya bersuara untuk melawan penindasan dan ketidakadilan yang ditimpakan kepada kaum perempuan oleh rezim dan kekuasaan negara yang acapkali mengatasnamakan agama.

Memang kerapkali masyarakat atau bangsa dapat bertahan hidup dalam kemampuan yang luar biasa demi menantikan pergantian sejarah ketika mereka berada dalam tekanan para tiran atau politik tiranis, hingga wabah waktu akhirnya menggerogoti dirinya sendiri, tetapi para penulis lah yang melakukan pemberontakan terhadap penantian dan berkisah dalam buku-buku dan tulisan-tulisan mereka hingga menyalakan api kesadaran dan perlawanan masyarakat terhadap penindasan.

Mereka para penulis atau pun para penyair, yang dapatlah diumpamakan sebagai para pembawa obor pencerahan dan kesadaran manusiawi promothean, bisa menulis dan bersuara ihwal apa saja. Tentang kerusakan ekologis dan lingkungan oleh ulah korporasi dunia, tentang ketidakadilan dan keprihatinan yang meruak dan bergeliat di gang-gang dan jalan-jalan kumuh kaum urban yang tersisihkan, tentang para pemilik industri senjata yang merekayasa perang agar produk industri pertahanan dan persenjataan mereka terjual, dan lain sebagainya.

Dalam kadar yang demikian itulah, kerja kepenulisan adalah kerja pencerahan, sebuah kerja untuk menyebarkan kesadaran dan kearifan, kerja untuk menghidupkan intelegensia dan merawat martabat kemanusiaan di tengah dunia yang mudah sekali terkorupsi, di tengah dunia yang acapkali dikobarkan dengan kebencian, atau di tengah dunia yang dimonopoli kaum korporat yang menghalalkan segala cara demi keuntungan pribadi dan sepihak dengan mengorbankan masa depan ekologi.

Para penulis mestilah adalah orang-orang yang sadar dengan apa yang dilakukannya, bahwa menulis adalah dalam rangka menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan yang seringkali rawan korupsi dan hipokrisi.

Sebagai kerja emansipatoris dan penyebaran wahana pencerahan dan kearifan itulah, para penulis acapkali mereka yang menjaga dan menghidupkan kesadaran manusiawi, yang karenanya pula menjadi para penyumbang dan pengubah wawasan historis dan kultural, tak jarang ikut mengbah jalan sejarah itu sendiri. Dostoievsky, misalnya, telah membangunkan rasa solidaritas humanis melalui prosa-prosanya, sebagaimana Ali Syariati ‘membangunkan’ generasi muda Iran di zamannya untuk tampil percaya diri demi kemajuan dan kemerdekaan Iran melalui tulisan-tulisannya selain lewat ceramah-ceramahnya.

Ibn Rusyd pernah menyatakan bahwa ‘Gagasan dan pemikiran memiliki sayap’, dan gagasan serta pemikiran yang ia maksudkan adalah gagasan yang dituliskan, sehingga dapat dibaca oleh orang lain atau oleh generasi selanjutnya.

Tak diragukan, kerja kepenulisan adalah kerja manusiawi dalam rangka turut serta menjaga dan membangun kesadaran manusia itu sendiri dalam keseharian, bersama langkah-langkah sejarah yang acapkali dibajak oleh kezaliman, korupsi, dan ketidakjujuran. Selain menulis juga sebagai wujud mengembangkan ilmu pengetahuan bagi hidupnya martabat manusiawi, bagi hidup dan lahirnya kearifan manusiawi.