Opini

Perlawanan Sunyi Perempuan Banten: Perspektif Feminisme Sosial

lustrasi oleh Sabryna Putri Muviola/kumparan

Perempuan di Banten masih menghadapi ketidaksetaraan yang terasa di banyak sisi kehidupan, baik di ruang publik maupun di rumah. Ketimpangan ini tidak muncul begitu saja, tapi terbentuk dari cara pandang sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam banyak hal, perempuan masih dianggap pelengkap, bukan individu yang punya kendali penuh atas dirinya. Di sinilah letak “perlawanan sunyi” itu—bukan lewat teriakan, tapi lewat kesadaran dan keberanian memahami hak-hak diri sendiri.

Feminisme sosial menjelaskan bahwa perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan bukanlah hal yang alami, tapi hasil dari konstruksi sosial yang sudah mengakar. Ketika urusan rumah tangga dianggap tanggung jawab perempuan, sementara posisi pemimpin seolah hanya milik laki-laki, di situlah sistem patriarki bekerja halus. Gerakan feminisme hadir bukan untuk menolak laki-laki, tapi untuk mengubah cara pandang yang membuat satu gender seolah lebih tinggi dari yang lain.

Situasi di Banten bisa jadi cermin nyata. Sampai Juli 2025, ada 617 laporan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Tahun 2022, jumlah kekerasan seksual mencapai 1.131 kasus, dan kebanyakan dilakukan oleh orang yang dikenal korban. Data ini menunjukkan bahwa ruang aman bagi perempuan masih terbatas, bahkan di lingkungan terdekatnya sendiri. Sementara Indeks Ketimpangan Gender (IKG) tahun 2023 berada di angka 0,464, menandakan kesenjangan yang masih cukup besar. Meski semakin banyak perempuan yang bekerja, hanya sedikit yang punya akses ke posisi pengambil keputusan. Patriarki masih berjalan pelan, tapi nyata.

Ketimpangan ini sering muncul lewat ekspektasi sosial yang seolah wajar. Perempuan yang sibuk bekerja kerap dianggap mengabaikan keluarga, sementara yang memilih di rumah disebut tidak produktif. Padahal, dua-duanya sama-sama berjuang dan menghadapi tekanan sosial. Di sinilah feminisme sosial memberi cara pandang baru: bahwa standar ganda terhadap perempuan harus dipertanyakan.

Tak Hanya Perempuan, Laki-laki Pun Bisa Berperan

Perjuangan feminisme juga tidak hanya soal perempuan. Laki-laki pun bisa ikut berperan dalam melawan ketidakadilan ini. Di beberapa daerah di Banten, sudah mulai terlihat perubahan kecil—ada laki-laki yang mau berbagi peran dalam rumah tangga, mendukung pasangan mereka bekerja, atau menolak kekerasan dalam keluarga. Langkah kecil seperti ini menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari hal yang sederhana.

Sekarang, media sosial juga punya peran besar dalam mendorong kesetaraan. Banyak perempuan muda mulai berani bersuara, menulis opini, berbagi pengalaman, dan membuka ruang diskusi tentang posisi perempuan di masyarakat. Media menjadi wadah penting bagi feminisme untuk tumbuh—bukan sebagai bentuk perlawanan, tapi sebagai ruang dialog. Di sana, perempuan bisa bercerita tentang dirinya sendiri tanpa harus menunggu orang lain menafsirkan siapa dirinya.

Feminisme juga tidak pernah bermaksud menentang laki-laki. Justru sebaliknya, gerakan ini menolak sistem yang menindas siapa pun. Patriarki bukan hanya membatasi perempuan, tapi juga menekan laki-laki agar selalu terlihat kuat dan tidak boleh menunjukkan emosi. Karena itu, feminisme sebetulnya mengajarkan nilai kemanusiaan yang lebih utuh—menghargai perbedaan tanpa perlu mengukur siapa yang lebih unggul.

Berbicara tentang feminisme bukan berarti menolak tradisi. Justru nilai-nilai budaya lokal seperti gotong royong dan kebersamaan bisa menjadi dasar untuk membangun hubungan yang lebih setara. Feminisme mengajak kita untuk menafsir ulang budaya agar lebih adil, tanpa menghapus identitas yang sudah ada.

Perlawanan perempuan Banten mungkin tidak selalu terlihat besar, tapi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ada yang berjuang melanjutkan pendidikan, ada yang berani menolak kekerasan, ada yang mulai berbicara tentang ketidakadilan yang mereka alami. Dari langkah-langkah kecil seperti inilah perubahan tumbuh. Karena kesetaraan bukan soal siapa yang lebih kuat, tapi tentang keberanian untuk bersuara dan memperjuangkan ruang yang sama bagi semua.


Bantenhejo.com adalah media jurnalisme warga dan berbasis komunitas. Isi tulisan dan gambar/foto sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Untuk sanggahan silahkan kirim email ke bantenhejo[at]gmail.com.


Tentang Penulis

Mahasiswi Administrasi Negara di Universitas Pamulang Kampus Serang

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *