Sastra

Puisi-puisi Sulaiman Djaya: Suatu Ketika

Ilustrasi dibuat oleh Gemini AI.

Suatu Ketika

Di studio radio itu
kau tertawa
dan aku juga
karena canda tiba-tiba.

Asap pendingin ruangan
luruh di wajah
dan matamu.

Seketika aku bahagia
melihatmu gembira
dan saat itulah
kepadamu

aku jatuh cinta
karena sesuatu
yang tak terduga.

(2025)


Bukit Kecil

21 Agstus 2025
hujan telah pulang
ke haribaan kenangan
ke lubuk keheningan
dan selagi senja berteduh,

ku-dengarkan saja
arus sungai bersenandung.
Angin yang berlari
adalah hatiku
mencandai kepolosanmu.

Mungkin cinta seperti cuaca
membasah mata
merebahkan tubuh rinduku
di serimbun sudut tahun.
Segala kenangan

berpacu dan beradu
ke jantung sepiku.
Dan selagi waktu
belum menjadi maut
kupahami nasib

seumpama kota-kota
yang berganti
puing-puing sejarah.
Perang, pertikaian
kerakusan dan keserakahan

yang menyamar
sebagai bisnis
dan perdagangan
di bilik-bilik pemilihan suara
para penipu berkedok konstitusi.

(2025)


Sungai Setapak

Jalan panjangmu
setapak rimbun usiaku
ranting-ilalang
ditinggalkan musim.
Dari mana mesti kutulis
kegembiraan manusia,
jika bukan keindahan
kejujuranmu
menerjemahkan hidup

yang memang bukan
jadwal dunia mesin.
Gerimis, serakan kamboja
tiba-tiba kubaca

sebagai serpihan kebetulan
nasib yang bukan kuasaku
menentu umur.
Aku pun selalu rindu
kata paling lugu, ketika bahasa
hanya jadi senjata
dan propaganda
penyembah benda-benda
berkedok agama.

(2025)


Ketika Aku Mencintaimu

Ketika aku mencintaimu
bunga tumbuh
dari susunan kalimatku
cuaca berjatuhan
di pepohonan senja.

Ketika aku mencintaimu
yang semula dilanda nestapa
tiba-tiba tertawa
dan bernyanyi gembira.

Dan ketika aku mencintaimu
engkau taka da
dalam perumpamaan
dan bahasa
kehilangan kiasannya.

(2024)


Pantun

Rinduku padamu
tersusun dari roti keju
cuaca berkabut
segelas susu
rimbun pagiku.

Rinduku padamu
adalah debur laut
menabrak syahdu matamu
bergejolak beruntun
ke hatiku.

(2024)


Apa Puisi Itu?

Bahasa yang jadi seni
jadi musik
kata-kata yang bernyanyi
harapan dan nasib
yang disyukuri.

Penyair hidup
dari pengalaman
memahami, membaca, menyimak
semesta, alam, kebetulan
dan mengisahkannya

kepada kekasih
yang jatuh cinta
dan kau membacanya
seakan kenyataan
yang kau akrabi.

(2023)


Bantenhejo.com adalah media jurnalisme warga dan berbasis komunitas. Isi tulisan dan gambar/foto sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Untuk sanggahan silahkan kirim email ke bantenhejo[at]gmail.com.


Tentang Penulis

Lahir di Serang, Banten. Menulis esai & fiksi. Tulisannya pernah dimuat di Koran Tempo, Majalah Sastra Horison, Indo Pos, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Majalah TRUST, Majalah AND, Majalah Sastra Kandaga Kantor Bahasa Banten, Rakyat Sumbar, Majalah Sastra Pusat, Jurnal Sajak, serta berbagai media cetak dan online lokal maupun nasional. Buku puisi tunggalnya Mazmur Musim Sunyi diterbitkan oleh Kubah Budaya pada tahun 2013. Esai & puisinya tergabung dalam beberapa Antologi, yakni Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi (Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013), Antologi Puisi Indonesia-Malaysia, Berjalan ke Utara (Antologi Puisi Mengenang Wan Anwar), Tuah Tara No Ate (Antologi Cerpen dan Puisi Temu Sastra IV di Ternate Tahun 2011), Sauk Seloko (Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI di Jambi Tahun 2012), Kota, Kata, Kita: 44 Karya Para Pemenang Lomba Cipta Cerpen dan Puisi 2019, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan Yayasan Hari Puisi, Antologi Puisi ‘NUN’ Yayasan Hari Puisi Indonesia 2015, dan lain-lain.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *