
Ilustrasi penulis skenario. (Foto: Getty Images)
Tidak seperti menulis cerpen, puisi, esai, novel atau jenis tulisan lainnya, menulis skenario adalah kerja kolektif yang melibatkan banyak kepala dalam proses kreatifnya dan banyak sentuhan tangan dari pihak-pihak yang terlibat di sana. Mulai dari supervisi naskah, produser, sampai ke tangan sutradara bahkan ketika isi naskah diejawantahkan dalam adegan oleh aktor sampai pada proses pasca produksi melalui editing, colour grading, dan seterusnya. Belum lagi proses revisi bolak balik yang pastinya menyertakan banyak catatan.
Naskah bukan lagi milik si penulis. Suara penulis jauh-jauh hari sudah tenggelam, hilang, bahkan ketika ia mulai menulis adegan dan dialog dari karakter dalam naskahnya, penulis sudah harus mati. Mati di bawah “selera industri”. Tak menyisakan setitik pun ego dalam tulisannya. Dalam hal ini menulis skenario adalah praktek nyata dari bentuk pembunuhan terhadap seorang penulis. Gagasan ini menemukan landasan teoritisnya dalam The Death of The Author karya monumental Rolland Barthes. Menurut Barthes, kematian penulis adalah harga yang harus dibayar demi ‘hidupnya’ sebuah tulisan.
Tak ada pemilik makna absolut. Penulis bukan penentu makna tunggal. Tidak seperti teks puisi yang masih dapat ditelusuri makna aslinya dari pergulatan batin penulisnya atau cerpen yang pastinya ditulis berdasarkan keresahan si penulisnya, menulis skenario menuntut anonimitas makna dari penciptanya. Kegelisahan sang penulis menyublim dalam laku tokoh ceritanya, pemikirannya mengkristal dalam dialog antar karakter – dialog yang tentunya sudah disesuaikan dengan selera industri yang kadang menyebalkan.
Tak ada ciri khas yang perlu ditonjolkan seperti ketika menulis prosa, puisi atau esai. Tak ada Esnest Hemingway dengan iceberg theory-nya, atau Franz Kafka dengan absurd bureaucratic realism-nya atau James Joyce dengan stream of conciuosness-nya. Wejangan Barthes mengenai kematian penulis demi hidupnya sebuah tulisan, bukan hanya relevan di sini tapi jadi keniscayaan mutlak.
Penulis hadir hanya untuk menggulirkan peristiwa, merangkai adegan dan menjahit logika sebab akibat sesuai dengan taste industri yang berlaku, selebihnya ialah pergulatan untuk bersikap rendah hati secara intelektual dengan menghilangkan ego dalam tiap inci tulisan dan melebur sebagai “teks siap produksi”. Menulis ftv untuk Sctv atau menulis sinetron untuk Rcti, misalnya, tak mungkin bisa memakai pendekatan lapisan gunung es-nya Hemingway. Di sini kepiawaian seorang penulis betul-betul diuji agar bisa luwes dalam menulis dan tidak berangkat dari taste menulis pribadinya saja. Mungkin itu salah satu dampak baik dari menulis sesuai selera indutri.
Skenario tak pernah selesai di tangan penulis. Ia akan disentuh oleh interpretasi sutradara, diterjemahkan oleh tubuh aktor, dipotong editor, dibingkai oleh kamera DOP. Pada fase pra-produksi sebuah film, sinetron, dokumenter, bahkan produksi sebuah iklan saja ada banyak alur yang harus dilalui sebuah naskah.
Mungkin bisa saya ibaratkan alurnya seperti naskah menaiki busway yang harus berhenti di tiap halte yang dilalui. Setiap halte yang dilalui berisi seorang spesialis yang siap menyensor naskah kita berlandaskan bidang keilmuannya masing-masing. Cara sutradara membaca naskah mungkin tidak sama dengan pandangan penulis, atau cara seorang aktor menginterpretasi naskah bisa jadi tidak serupa dengan pembacaan sang sutradara, dan cara editor membaca naskah bisa saja jauh berbeda dengan pembacaan pihak-pihak lain di atas.
Kondisi ini, menurut Stanley Fish, menuntut makna selalu berada di dalam ‘ruang negosiasi’. Alur pra-produksi ini seperti sensor berlapis multi bidang. Berbagai pihak menafsirkan berdasarkan horizon pemahamannya masing-masing. Sesuai dengan pandangan Stanley Fish tentang interpretive communities, sebuah naskah sebuah teks, akan mendapat pemaknaan berbeda tergantung “komunitas” yang membaca naskah atau teks itu. Dalam produksi karya audio-visual, banyak pihak yang terlibat tentu berasal dari ‘komunitas artistik’ yang berbeda, oleh sebab itu suara penulis bukan penentu tunggal di sini. Masing-masing bidang saling melengkapi, menyulam, menjahit dan merangkai berbarengan demi terciptanya sebuah karya utuh yang dapat dinikmati masyarakat luas.
Pada akhirnya menulis skenario menjadi semacam pekerjaan ganjil: seorang penulis bekerja justru untuk menghilang, bukan hanya hilang bahkan membunuh dirinya sendiri sebab ia sadar bahwa tulisannya harus siap direduksi, dibongkar, diinterpretasi, bahkan dianulir. Betul bahwa skenario adalah blueprint dari sebuah film dan karya audio visual lainnya, namun dalam proses produksi sebuah karya audio visual, penulis hanya satu bidak kecil dari panjang dan luasnya alur produksi yang sekali lagi, melibatkan banyak kepala dan banyak kreatifitas bermain di sana.
Menulis skenario, bagi saya, lebih menyerupai kegiatan merangkai partitur ketimbang menulis teks final; dalam logika partitur komposer kehilangan kendali penuh saat partitur dimainkan. Tempo, dinamika dan emosi ditentukan oleh pemain dan konduktor. Makna hanya akan penuh saat ia dipentaskan, diproduksi atau ditayangkan.

