Opini

Opini: Manusia Satu Dimensi

Ilustrasi dibuat oleh Gemini AI

Oleh: Sulaiman Djaya, Peminat Kajian Kebudayaan

Manusia (masyarakat) mutakhir zaman kapitalisme adalah masyarakat para pencipta berhala –tak lagi dari batu-batu atau kayu sebagaimana masyarakat terdahulu, tapi dengan teknologi dan kecerdasan buatan. Ritualnya adalah praktik dan kegembiraan sehari-hari di media sosial, merekayasa citra diri dengan kecerdasan buatan demi narsisme, hingga flexing dengan produk-produk super mewah. Mereka yang masih mempercayai kesejatian dan kesahajaan barangkali memang harus menyingkir ke sudut paling sunyi.

Siapa sangka, apa yang dulu didiagnosis Herbert Marcuse lewat bukunya yang berjudul One Dimensional Man itu, justru makin terasa kebenarannya di jaman ini. Siapa bilang paganisme telah mati? Justru di era materialisme dan masyarakat yang diciptakan dan dibentuk perilaku dan kecendrungannya oleh logika pasar dan kalkulasi untung-rugi para kapitalis, paganisme dirayakan dengan gembira. Uang dan komoditas adalah tuhan-tuhan baru yang menggantikan tuhan-tuhan lama. Bahkan kaum agamawan pun ikut pula merayakannya, berbarengan dengan para selebriti yang insaf dan baru tahu agama, lalu jualan agama melalui ragam trend dan merk, dari mulai brand ‘hijrah’ hingga kampanye ‘syar’i’  yang berpadu dengan modus ekonomi.

Buku yang ditulis seorang filsuf jebolan Mazhab Frankfurt Jerman, Herbert Marcuse, yang berjudul One Dimensional Man itu, merupakan buku filsafat paling laris dalam sejarah, menyoroti manusia dan kehidupannya di zaman industri kapitalisme. Masyarakat di zaman industri biasanya didominasi teknologi dan rasionalitas teknologi atau rasionalitas instrumental.

Dalam masyarakat yang didominasi teknologi, instrumentalisasi merupakan keniscayaan. Segalanya bisa diperalat atau dimanipulasi. Teknologi yang diciptakan manusia pada mulanya memanipulasi alam, tapi kemudian memanipulasi manusia yang justru menciptakannya. Istilah lainnya yang juga akrab dalam masyarakat yang didominasi teknologi adalah operasionalisasi. Di sinilah, konsep-konsep ilmu pengetahuan hanya akan berguna bila bisa dioperasikan.

Soalnya adalah, demikian menurut Herbert Marcuse, teknologi sesungguhnya tidak netral. Bukan entitas atau sesuatu yang bebas nilai atau free value. Sebagai contoh dalam masyarakat industri, manusia menikmati banyak hal darinya, namun pada saat yang sama keinginan untuk menikmati hasil industri itu sendiri justru diciptakan oleh sistem industri (kapitalisme) itu sendiri.

Di masyarakat industri itu, produksi memang meningkat, tapi kebutuhan juga meningkat –diciptakan oleh sistem industri (kapitalisme) itu sendiri, agar konsumsi terus menerus dilakukan masyarakat. Di masyarakat modern seperti inilah, manusia menganggap mereka bebas meski pada kenyataannya justru didikte oleh sistem yang mereka buat sendiri.

Masyarakat (Manusia) Konsumeris

Di masyarakat industri (kapitalisme), konsumsi manusia (masyarakat) sesungguhnya sudah disiapkan atau ditentukan oleh apparatus produksi kapitalisme itu sendiri, seperti iklan, media massa, hingga industri militer. Inilah sebenarnya keadaan ketika manusia (masyarakat) sesungguhnya tak mampu berbuat lain selain menginginkan segala sesuatu selain yang telah diciptakan sistem teknologi (kapitalisme) yang totaliter.

Kondisi masyarakat (manusia) yang seperti itulah yang dimaksud Herbert Marcuse sebagai manusia (masyarakat) satu dimensi. Ketika mereka tak lagi sanggup berpikir kritis, dan kehidupan mereka telah dideterminasi oleh sistem teknologi industri (kapitalisme) yang bersifat totaliter.

Tesis yang diutarakan Herbert Marcuse itu masih relevan di jaman kita saat ini. Mulai dari hedonisme, gaya hidup dan konsumerisme korporat dan para pejabat yang mengakibatkan kerusakan lingkungan dan ketimpangan atau kesenjangan struktural yang dikekalkan politik dan regulasi yang tidak adil. Inilah realitas masyarakat yang ‘dikondisikan’ oleh kapitalisme dan ‘dikerdilkan’ mekanisme dan paradigma mesin dan sistem yang diciptakan hanya untuk melanggengkan kekuasaan dan kekayaan minoritas orang-orang sangat kaya.

Ciptaan ‘Mengendalikan’ Pencipta

Perkembangan teknologi dan komoditas yang diciptakan manusia lalu justru yang akan mengubah perilaku dan gaya hidup mereka. Berparade bersama dengan mengendarai motor gede (moge), mengoleksi pabrikan-pabrikan super mewah. Menggunakan atau memanfaatkan dengan gembira kecerdasan buatan untuk ‘mengkopi’ citra diri mereka demi narsisme.

Orang-orang kini lebih asyik dengan gawai mereka dan dunia mayantara yang mereka selancari selama berjam-jam setiap hari. Sementara orang-orang di dekat mereka saat ada di tempat yang sama dianggap tidak nyata. Tidak akan merasa keren jika tidak nongkrong di Starbuck atau makan di McDonald. Sementara para elit dan pejabat akan merasa superior jika mengoleksi pabrikan-pabrikan mewah seperti Ferrari, Porsche dan lainnya, dan praktik korupsi di Indonesia yang merebak di kalangan mereka pun dipompa terus-menerus oleh materialisme, hedonisme, dan konsumerisme ini.

Paska Karl Marx

Prediksi Karl Marx tentang kapitalisme beberapa ada yang benar, namun banyak juga yang meleset. Karl Marx justru berjasa bagi kapitalisme untuk sadar agar segera beradaptasi dengan perkembangan jaman. Eksploitasi memang tidak sevulgar dulu, namun sistem yang diciptakan kapitalisme tetap mengkondisikan agar kebanyakan ‘buruh’ hanya akan menjadi ‘buruh’, karena orang-orang super kaya membutuhkan mur-mur kecil yang akan membuat mesin birokrasi raksasanya tetap jalan, sebagaimana dulu para korporat di Amerika menciptakan sistem perbudakan demi keuntungan segelintir orang kaya: mengurangi biaya produksi demi keuntungan yang tak terkira.

Herbert Marcuse, sebagaimana Martin Heidegger, menyarankan agar kita mawas diri terhadap teknologi yang kita ciptakan. Ia mengkritik rasionalitas teknologi kapitalisme yang membuat masyarakat modern kita saat ini terobsesi pada gaya berpikir teknologis, yang justru menciptakan ragam alat dan piranti yang mematikan kapasitas atau kemampuan kritis kita. Begitu pula, penguasaan teknologi dan piranti-piranti atau alat-alatnya itu di tangan segelintir elit justru kerapkali menciptakan penindasan dan kerusakan lingkungan.


Bantenhejo.com adalah media jurnalisme warga dan berbasis komunitas. Isi tulisan dan gambar/foto sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Untuk sanggahan silahkan kirim email ke bantenhejo[at]gmail.com.


Tentang Penulis

Lahir di Serang, Banten. Menulis esai & fiksi. Tulisannya pernah dimuat di Koran Tempo, Majalah Sastra Horison, Indo Pos, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Majalah TRUST, Majalah AND, Majalah Sastra Kandaga Kantor Bahasa Banten, Rakyat Sumbar, Majalah Sastra Pusat, Jurnal Sajak, serta berbagai media cetak dan online lokal maupun nasional. Buku puisi tunggalnya Mazmur Musim Sunyi diterbitkan oleh Kubah Budaya pada tahun 2013. Esai & puisinya tergabung dalam beberapa Antologi, yakni Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi (Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013), Antologi Puisi Indonesia-Malaysia, Berjalan ke Utara (Antologi Puisi Mengenang Wan Anwar), Tuah Tara No Ate (Antologi Cerpen dan Puisi Temu Sastra IV di Ternate Tahun 2011), Sauk Seloko (Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI di Jambi Tahun 2012), Kota, Kata, Kita: 44 Karya Para Pemenang Lomba Cipta Cerpen dan Puisi 2019, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan Yayasan Hari Puisi, Antologi Puisi ‘NUN’ Yayasan Hari Puisi Indonesia 2015, dan lain-lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *